Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Program PINTAR

Ludo PINTAR Indonesia

Setiap orang pasti memiliki kebanggaan tersendiri mengenai adat istiadat di daerahnya.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Andita Rahmawati, Guru SDN 1 Brangsong dengan media pembelajaran Ludo PINTAR Indonesia buatannya. 

Oleh: Andita Rahmawati SPd, Guru SDN 1 Brangsong Kab Kendal, Sekolah Mitra Program PINTAR Tanoto Foundation

SETIAP orang pasti memiliki kebanggaan tersendiri mengenai adat istiadat di daerahnya. Bagaimana tidak, adat istiadat telah menjadi ciri khas setiap daerah. Melalui adat istiadat yang dimilikinya, setiap daerah dapat merepresentasikan pemikiran, norma, dan nilai-nilai yang dijunjung sejak dahulu kala. Melalui adat istiadat pula, kelestarian suatu daerah dapat terjaga. Karena itulah, adat istiadat menjadi kekayaan Indonesia yang tidak dapat diukur secara material saja. Selain itu, salah satu manfaat yang dapat dipetik adalah dapat digunakannya adat istiadat sebagai sarana penanaman rasa cinta tanah air.

Bermain sembari belajar memudahkan materi pembelajaran diserap oleh murid-murid.
Bermain sembari belajar memudahkan materi pembelajaran diserap oleh murid-murid. (IST)

Hal ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Misalnya di lingkup pendidikan, guru dapat menanamkan rasa cinta tanah air kepada muridnya. Pada jenjang sekolah dasar, tepatnya di kelas 4, terdapat materi mengenai keragaman sosial, ekonomi, budaya, etnis, dan agama di Indonesia. Guru dapat memanfaatkan materi pembelajaran IPS tema 7, subtema 2, pembelajaran 3 tersebut sebagai cara efektif penanaman rasa cinta tanah air.

Boardgame Ludo PINTAR Indonesia sedang dimainkan
Boardgame Ludo PINTAR Indonesia sedang dimainkan (IST)

Bukan tanpa halangan praktik pembelajaran 3 tersebut dapat terlaksana di dalam kelas. Beberapa kendala dijumpai guru, seperti keterbatasan materi mengenai rumah adat Indonesia.

Dalam buku ajar misalnya materi terbatas pada nama provinsi dan nama rumah adat, sedangkan pada lembar kerja terdapat bagian pendeskripsian karakteristik atau keunikan rumah adat. Hal ini mengakibatkan murid mengalami kesulitan menyelesaikan lembar kerja tersebut karena kurangnya informasi yang memadai. Beranjak dari kondisi kelas tersebut, inovasi pembelajaran dilakukan, yakni dalam hal media pembelajaran. Guru menciptakan sebuah media pembelajaran inovatif yang diberi nama “Ludo PINTAR Indonesia”.

Bu Dita, sapaan akrabnya, ikut bermain Ludo PINTAR bersama murid-murid.
Bu Dita, sapaan akrabnya, ikut bermain Ludo PINTAR bersama murid-murid. (IST)

Pada dasarnya, Ludo merupakan permainan tradisional asal India. Hingga kini, Ludo menjadi salah satu jenis permainan papan popular yang banyak digemari anak-anak hingga orang dewasa di belahan dunia mana pun. Selain perangkat bermainnya yang cukup sederhana, cara memainkan Ludo pun cukup mudah. Setiap grup yang terdiri dari dua hingga empat orang hanya perlu beradu cepat untuk sampai di garis finish. Konsep permainan Ludo inilah yang diadaptasi untuk diterapkan dalam pembelajaran materi rumah adat.

Pada praktik pembelajaran, guru menggunakan pendekatan MIKiR dari program PINTAR Tanoto Foundation. Mula-mula semua murid mengamati layar LCD mengenai peta rumah adat tiap provinsi di Indonesia. Kemudian, guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh murid. Tanya jawab berlangsung hingga semua murid berhasil menyelesaikan pertanyaan dan dialog bersama guru. Selanjutnya, guru membagi murid secara berkelompok yang terdiri dari 5 orang. Terbentuknya kelompok menjadi tanda sesi pembelajaran berikutnya dimulai – sesi permainan Ludo.

Dalam permainan Ludo, terdapat dua jenis kartu, yakni kartu pertanyaan dan jawaban. Sesuai namanya, kartu pertanyaan berisi soal yang harus dijawab oleh murid, sedangkan kartu jawaban berisi jawaban atas pertanyaan. Kartu ini disebut juga dengan kartu bintang. Setiap murid bergantian mengambil kartu yang telah diacak. Bagi murid yang paling banyak menjawab benar, dialah pemenang dalam permainan.

Sembari menunggu kelompok yang sedang bermain menyelesaikan misi permainan, kelompok lain bertugas menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh guru. Guru memberikan penugasan mengenai materi keberagaman budaya, yakni pembuatan poster dari kertas asturo yang berisi gambar rumah, makanan, dan pakaian adat tiap provinsi. Saat permainan sudah selesai, kelompok melanjutkan aktivitas diskusi mengenai keunikan 5 rumah adat di Indonesia. Hasil diskusi dikumpulkan dan dipresentasikan bersama dengan pelaporan pemerolehan bintang dalam permainan Ludo PINTAR Indonesia.

Penggunaan media permainan Ludo PINTAR Indonesia begitu mengesankan. Banyak murid tertarik untuk mempelajari materi rumah adat karena bagi mereka tidak terlalu sulit memahami materi melalui permainan Ludo yang menyenangkan.

“Sangat asyik, menyenangkan, tidak membuat jenuh, lebih mudah dipahami dan diingat,” ungkap Azra Fadiya Al Arafah Husain.

“Saya sangat senang belajar sambal bermain seperti ini. Jadi mengerti banyak rumah adat dari macam-macam provinsi,” ujar Rendi Adiansyah bersemangat.

Kesan serupa juga diungkapkan oleh M. Rizqi Nurohman, “Saya senang sekali belajar seperti ini. Benar-benar tidak bosan.”

Meski “Ludo PINTAR Indonesia” dapat diandalkan, tetapi murid perlu dipastikan untuk terlebih dahulu mencari tahu pengetahuan dasar tentang rumah adat di Indonesia. Sebelum bermain pun, guru perlu memberikan arahan dengan jelas agar murid tidak asal bermain, tetapi juga dapat melakukan pengamatan secara cermat mengenai detail informasi yang ada di kartu bintang. Untuk keefektifan waktu pembelajaran yang terbatas, permainan “Ludo PINTAR Indonesia” dapat dilakukan secara serentak, dengan catatan perlu pengadaan media permainan yang memenuhi jumlah kelompok. (*) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved