Ekonom Indef: Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Jangan Naikkan Harga BBM dan Elpiji

pemerintah perlu menahan untuk mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi dan elpiji 3 Kg.

Editor: Vito
tribunjateng/dok
ilustrasi - elpiji melon 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mengatakan, pencapaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2022 sebesar 5,01 persen menunjukkan kondisi yang semakin baik di tengah transisi dari pandemi menuju endemi.

"Tentu ini menujukkan bahwa ekonomi kita sudah mulai pulih, dan tentu ini harus dijaga momentumnya,” katanya, dalam konferensi pers Indef, Rabu (11/5).

Menurut dia, pemerintah harus fokus terhadap kebijakan yang langsung berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk perdagangan, ekspor impor, dan konsumsi atau daya beli masyarakat.

Dalam menjaga momentum ekonomi itu, Rizal menuturkan, pemerintah perlu menahan untuk mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi dan elpiji 3 Kg. Apalagi kalau bersamaan dengan harga tarif dasar listrik (TDL) yang direncanakan juga akan dinaikkan.

Hal ini dikhawatirkan akan menggerus kualitas pertumbuhan ekonomi karena inflasi, dan berpotensi akan menekan pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen.

“Ini akan meningkatkan angka inflasi, dan pasti itu akan di atas target pencapaian makro kita. Di April saja kan sudah hampir 3,5 persen. Kalau kemudian dilakukan kebijakan ini, maka pasti akan menaikkan inflasi, dan agak sulit nanti untuk mencapai target inflasi di angka 3 persen,” tambahnya.

Selain itu, Rizal juga meminta agar sebaiknya pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi, TDL, dan elpiji 3 kg secara bersamaan dengan menaikkan harga. Apalagi dilakukan secara bersamaan dengan kenaikan PPN menjadi 11 persen.

Bila pemerintah tidak menahan kebijakan pencabutan subsidi TDL, BBM, dan elpiji 3 kg, maka performa ekonomi akan semakin berat untuk mencapai target pertumbuhan 5,2 persen.

Menurutnya, konsekuensinya pemerintah harus mengeluarkan berbagai insentif baik terhadap industri pengolahan yang terdampak, juga terhadap daya beli masyarakat, yang keduanya akan semakin mengompensasi terhadap kualitas pertumbuhan yang rendah.

“Termasuk juga rencana PPKM yang akan tetap dilanjutkan juga saya kira harus betul-betul diperhitungkan. Jangan sampai nanti mobilitas tertekan lagi dan konsumsi turun,” tandas Rizal. (Kontan.co.id/Dendi Siswanto)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved