Berita Demak

Kades Sayung Keluhkan Urugan Proyek Tol Semarang Demak, Pembuangan Air Rob Tak Maksimal

Kepala Desa Sayung, Munawir, mengeluhkan adanya hurukan proyek tol Semarang-Demak.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Rezanda Akbar D
Kepala Desa Sayung, Munawir, mengeluhkan adanya hurukan proyek tol Semarang-Demak yang menyebabkan pembuangan air banjir dan rob di Desa Sayung tidak maksimal. 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Kepala Desa Sayung, Munawir, mengeluhkan adanya hurukan proyek tol Semarang-Demak yang menyebabkan pembuangan air banjir dan rob di Desa Sayung tidak maksimal.

"Untuk di wilayah Sayung itukan hurugan, jadi dihurug ibaratnya air tidak lancar. Jadi untuk keluarnya air secara alami tid

Desa Sayung terdampak rob.
Desa Sayung terdampak rob. (Tribun Jateng/Rezanda Akbar D)

ak bisa maksimal karena terhambat hurug," katanya, Minggu (22/5/2022).

Menurutnya, meskipun tol tersebut dipancang, namun dibawahnya masih terdapat hurugan.

"Meskipun dipancangkan bawahnya dihurug, nah air itu tidak bisa mengalir dengan cepat. Juga beberapa sungai di wilayah Sayung khususnya yang terdampak Dusun Babadan itu kan sungainya dihurug," urainya.

Meski telah diberikan jalan air, namun ukurannya tidak selebar semula.

"Mungkin karena proses kontuksi tol, jadi mungkin harus di hurug, mereka juga memancang sungai. Semula jalan air ukuranya kurang lebih sampai 7 meter nah sekarang tinggal 2 meter. Itukan untuk percepatannya airnyakan lain juga," jelasnya.

Akibat hal tersebut menyebabkan banjir di Desa Sayung jadi lama untuk surut.

"Ya tentunya sebelum ada hurugan bisa ngeluarin air melalui sipon gonjol secara alami bisa mengurangi hingga kurang lebih 17.000.m2/hari," 

Namun saat ada urukan pihaknya hanya bisa melakukan pembuangan air banjir dan rob kurang lebih 9.000m2/perhari.

"Sekarang dengan ada hurugan paling sehari bisa buang air secara alami kurang lebih 9.000m2/perhari, juga tergantung air surut lautnya serta tergantung curah hujan," jelasnya.

Untuk menunjang pembuangan air, ia juga melakukan pompanisasi menggunakan anggaran dana desa.

"Untuk operasional 1 pompa listrik sehari kurang lebih Rp150rb, untuk operasional 1 mesin pompa kipas yang modifikasi sehari bisa mencapai Rp 600rb dengan operasional tenaganya," jelasnya.

Padalhan PADes atau Pendapatan Asli Desa Sayung lemah. Karena daerah yang dulunya untuk pertanian kini terendam.

"Karena memang tidak bisa untuk produktivitas pertanian, mungkin bisa digunakan untuk budidaya ikan. Tapi kadang terganggu persoalan air limbah, kalau PADesnya setahun paling bisa 10juta dari TKDnya," ucapnya.

Untuk mengatasi itu, ia meminta kepada pemerintah ataupun pihak tol untuk sekuyung membuat kolam retesi maupun stasiun pompa pengendalian rob banjir di wilayah Desa Sayung.

"Harapannya untuk bisa dibikinkan kolam retensi maupun stasiun pompa pengendalian rob banjir di wilayah desa Sayung yang letaknya di belakang balai Desa Sayung," ucapya.

Peletakan di Balai Desa Sayung dikarenakan persoalan air diwilayah Sayung, Loireng maupun Tambakroto bisa terselesaikan.

"Luasnya kurang lebih 2,5 hektare, agar harapannya kedepan persoalan air di wilayah Sayung, Loireng maupun Tambakroto, tidak mbladrah-mbladrah tekan ndi-ndi," harapannya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved