Dosen Undip Semarang Latih Petani Wates Top Working Agroekoteknologi dan Perangkap Lekat Kuning

Tim Pengabdian FPP UNDIP melakukan pendampingan langsung kepada kelompok tani Sumber Raharjo di Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
istimewa
Tim Pengabdian FPP UNDIP melakukan pendampingan langsung kepada kelompok tani Sumber Raharjo di  Wates, Kecamatan Ngaliyan,Kota Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Tim Pengabdian FPP UNDIP melakukan pendampingan langsung kepada kelompok tani Sumber Raharjo di Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. 

Pengabdian Masyarakat tersebut bagian tugas wajib dosen selain mengajar dan publikasi ilmiah. 

Pengabdian bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman kelengkeng dan jambu kristal melalui pelatihan perbanyakan vegetatif dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kegiatan dihadiri petani, penyuluh pertanian, tim pengabdian Agroekoteknologi FPP UNDIP dan Lurah Wates. 

“Alasan awal mengapa Top Working diajarkan di Kelompok Tani Sumber Raharjo Wates pada Kamis pekan lalu adalah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman”, ucap ketua program studi Agroekoteknologi FPP UNDIP, Karno pada pembukaan pelatihan seperti keterangan tertulis yang diterima Tribunjateng.com, Selasa (31/5/2022).

Ia di hadapan para petani menggambarkan peluang pasar bibit yang masih terus berkembang.

"Ini adalah alat Saya berupa pisau kecil, tidak besar dan tidak mahal tapi sudah sangat cukup jika benar-benar menggunakannya”, ungkap Alumni S3 di The University of Queensland yang dilanjutkan praktik top working.

Hampir semua peserta dari petani memang tidak muda, namun semangat belajar, terus menanam dan merawat tanaman sangat tinggi. 

Hal ini ditunjukkan dengan para petani yang mulai mengerumuni beliau ketika praktik mulai berlangsung.

Antusiasme terus berlanjut hingga pada sesi kedua, yaitu sesi tentang pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Dosen muda Agroekoteknologi FPP UNDIP, A’isyah Surya Bintang, menjelaskan, memberikan materi metode sederhana berupa perangkap lekat kuning.  

Ia melanjutkan, keanekaragaman di lahan adalah anugrah yang harus diorganisir dengan bijak. 

"Di lahan ada hama, ada penyakit, ada musuh alami, dan ada beragam makhluk yang kesemuanya berhak hidup," paparnya. 

Menurutnya, manajemen adalah kunci dalam mengatasi OPT, maka dengan mengetahui makhluk (red- OPT dan musuh alami) yang ada di lahan, pengendalian hama terpadu mudah dilakukan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved