Berita Semarang

Khitanan Warga Bandungan Digelar Arak-Arakan Pakai Kuda, Bangkitkan Kembali Tradisi yang Punah

Seorang warga di Desa Munding, Bandungan, Kabupaten Semarang, menggelar khitanan.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV
Seorang warga di Desa Munding, Bandungan, Kabupaten Semarang, menggelar khitanan atau sunatan anaknya dengan sebuah tradisi, yakni arak-arakan dengan tiga ekor kuda, Selasa (31/5/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BANDUNGAN - Seorang warga di Desa Munding, Bandungan, Kabupaten Semarang, menggelar khitanan atau sunatan anaknya dengan sebuah tradisi, yakni arak-arakan dengan tiga ekor kuda, Selasa (31/5/2022) malam.

Anak yang bernama Fahreza Arva Kamal tersebut rencananya dikhitan seusai arak-arakan menggunakan seekor kuda d

Seorang warga di Desa Munding, Bandungan, Kabupaten Semarang, menggelar khitanan atau sunatan anaknya dengan sebuah tradisi, yakni arak-arakan dengan tiga ekor kuda, Selasa (31/5/2022).
Seorang warga di Desa Munding, Bandungan, Kabupaten Semarang, menggelar khitanan atau sunatan anaknya dengan sebuah tradisi, yakni arak-arakan dengan tiga ekor kuda, Selasa (31/5/2022). (TRIBUN JATENG/REZA GUSTAV)

iiringi marching band dan ratusan penghapal Alquran warga setempat mengelilingi permukiman desa.

Tampak tiga ekor kuda disiapkan, satu untuk Fahreza dan diikuti dua penunggang kuda perempuan mengenakan cadar atau dengan wajah tertutup di belakangnya.

Satu di antara penunggang kuda perempuan merupakan lurah atau Kepala Desa Munding, Rumdoniyatun, atau yang kerap disapa Dani.

Menurutnya, tradisi arak-arakan menggunakan kuda tersebut sudah puluhan tahun lamanya tidak dilaksanakan di wilayahnya.

“Sehingga memberikan motivasi bagi masyarakat agar kebudayaan yang pernah punah ini digiatkan kembali,” ungkapnya kepada Tribunjateng.com seusai arak-arakan.

Ia menerangkan dirinya mendampingi anak yang akan disunat tersebut merupakan representasi dari perlindungan seorang pangeran.

“Ini judulnya laskar wanita yang melakukan pendampingan, pengamanan atau memberikan perlindungan kepada pangeran, dalam hal yang digambarkan adalah anak yang disunat.

Kemudian pangeran ini nantinya harus bisa meraih cita-citanya dan meninggikan derajat kedua orangtuanya,” jelasnya.

Ia menambahkan, tradisi tersebut tak luput dari kaidah-kaidah Islam, mengingat sebagian besar masyarakat di sana merupakan pemeluk agama Islam.

Sebanyak 400 peserta kirab atau arak-arakan di sana sendiri sudah hapal Alquran.

Kemudian terdapat bacaan-bacaan surat Alquran yang dilafalkan seusai arak-arakan itu. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved