Opini

Opini Usman Efendi: Urgensi Penanganan Rob Jangka Panjang

Tingginya pasang air laut menyebabkan tanggul laut di Pelabuhan Tanjung Emas jebol yang mengakibatkan wilayah sekitar pelabuhan tergenang air dengan k

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Usman Efendi (Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG) 

Opini Ditulis Oleh Usman Efendi (Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG)

TRIBUNJATENG.COM - MASIH lekat di ingatan kita terkait banjir besar pada 23 Mei 2022 lalu yang melanda sebagian besar Pantai Utara Jawa Tengah, dan khususnya Pesisir Semarang yang menarik perhatian publik. Bukan banjir biasa, melainkan banjir akibat pasang air laut, atau biasa disebut rob oleh masyarakat setempat.

Tingginya pasang air laut menyebabkan tanggul laut di Pelabuhan Tanjung Emas jebol yang mengakibatkan wilayah sekitar pelabuhan tergenang air dengan ketinggian mencapai 40 hingga 150 cm.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, tercatat kelurahan Bandarharjo, Kemijen, dan Tanjung Emas terendam banjir. Sebanyak 1.255 kepala keluarga memilih bertahan di rumah yang sudah tergenang. Genangan rob menyebabkan aktivitas di pelabuhan mengalami gangguan dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Sebagian jadwal keberangkatan kapal terpaksa ditunda akibat sulitnya akses menuju pelabuhan. Sementara itu, sebanyak 713 kontainer barang ekspor dan impor dilaporkan terendam banjir dengan total kerugian mencapai Rp 615 miliar.

Sejatinya rob sudah menjadi hal biasa di Semarang. Wilayah pesisir ibu kota Jawa Tengah tersebut memiliki topografi yang tidak seragam. Beberapa wilayah memiliki ketinggian lebih rendah dari pasang maksimum, sehingga memungkinkan terjadinya intrusi air laut pada batas tempat tersebut. Dengan kontur tanah yang landai antara 0 persen - 5 persen serta kondisi tanah di beberapa tempat yang jenuh membuat genangan air laut dapat bertahan cukup lama.

Rendahnya ketinggian permukaan tanah ternyata diikuti dengan penurunan tanah yang terus berlangsung. Menurut Islam dkk (2017), penurunan tanah di Pesisir Semarang mencapai 10 cm per tahun. Salah satu penyebab penurunan tanah adalah kondisi geologi kota Semarang yang tersusun dari endapan aluvial muda kemudian mengalami pemampatan alami akibat beban bangunan diatas tanah. Pengambilan air tanah yang berlebihan juga menyebabkan tanah mudah ambles.

Penyebab Rob

Secara umum pada bulan Mei terjadi pasang tertinggi dalam satu tahun. Berdasarkan data pengamatan pasang surut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Semarang, pada tanggal 23 Mei lalu terjadi pasang maksimum yang menyebabkan rob. Kejadian ini menyedot perhatian banyak pihak mengingat pasang air laut lebih tinggi dari biasanya.

Pasang air laut pada tanggal tersebut terjadi akibat kombinasi pengaruh astronomis dan meteorologis. Faktor astronomis, yakni pengaruh gaya tarik gravitasi bulan dan matahari menjadi kontributor utama. Pasang maksimum terjadi akibat gaya gravitasi terkuat bulan dan matahari, yaitu pada saat bulan baru, purnama, dan lebih kuat saat terjadi perigee (jarak bulan terdekat ke bumi).

Namun anehnya, bulan purnama dan perigee justru sudah terjadi pada tanggal 16 dan 17 Mei lalu. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), waktu terjadinya pasang maksimum berbeda di setiap tempat, tidak selalu bertepatan dengan kejadian bulan baru, purnama, atau perigee. Perbedaan geografi wilayah, seperti bentuk pantai dan kontur dasar laut membuat adanya variasi pasang surut di setiap tempat. Efek dari bulan purnama dan perigee sebelumnya kemungkinan baru berdampak di Semarang pada tanggal 23 Mei.

Adapun faktor meteorologis, yakni peningkatan tinggi muka laut akibat pengaruh keadaan cuaca. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh hembusan angin kencang atau turunnya tekanan udara. Pada tanggal 23 Mei lalu, terjadi angin kencang mencapai 20 knot (37 km/jam) di wilayah Laut Jawa dan bertahan selama hampir satu hari. Tingginya kecepatan angin meningkatkan tinggi gelombang, serta mendorong air laut ke arah pesisir sehingga menambah tinggi muka laut.

Upaya Mitigasi

Berbagai upaya terus dilakukan untuk menanggulangi masalah rob yang kian berlangsung. Saat ini pemerintah tengah mengupayakan pembangunan jalan tol Semarang - Kendal serta tol Semarang - Demak.

Keberadaan jalan tol tersebut selain memperlancar arus lalu lintas juga diharapkan bisa menjadi tanggul laut yang melindungi wilayah pesisir dari terjangan rob. Selain itu juga dilakukan pembangunan tanggul laut di utara kelurahan Tambak Lorok, Tanjung Emas, serta peninggian Jalan Arteri Yos Sudarso untuk melindungi pusat kota.

Beberapa ahli menilai solusi konstruktif tersebut hanya menangani permasalahan dalam jangka pendek. Perlu adanya upaya jangka panjang untuk mengatasi permasalahan yang sudah mengakar kuat. Salah satu saran yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pembatasan penggunaan air tanah untuk mengurangi laju penurunan tanah.

Masalah penurunan tanah juga pernah dialami ibu kota Jepang, Tokyo. Kebijakan pembatasan penggunaan air tanah yang dilakukan pemerintah Jepang selama 20 tahun terbukti berhasil dalam mengatasi penurunan tanah di kota tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemkot Semarang juga menghimbau masyarakat agar beralih menggunakan sumber air dari PDAM.

Kewaspadaan masyarakat akan potensi rob juga perlu dipertahankan dengan memperbarui informasi dari BMKG mengingat pada bulan Juni ini kondisi pasang air laut diperkirakan masih tinggi. Masuknya angin timuran di bulan Juni ini juga berpotensi menambah tinggi muka laut di wilayah pesisir Pantura. Kita berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan dapat mengatasi permasalahan yang sudah mendarah daging di kota Semarang. (*)

Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved