Bank Dunia Peringatkan Ancaman Resesi Ekonomi Global

perang di Ukraina telah memperbesar perlambatan ekonomi global, menuju periode pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang berlarut-larut.

Editor: Vito
istimewa
ilustrasi ekonomi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global hampir sepertiga menjadi 2,9 persen pada 2022.

Bank Dunia memperingatkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah menambah kerusakan ekonomi global yang sudah terguncang akibat pandemi covid-19. Saat ini, banyak negara tengah menghadapi resesi ekonomi.

Reuters memberitakan, Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global, mengatakan, perang di Ukraina telah memperbesar perlambatan ekonomi global, yang sekarang memasuki apa yang bisa menjadi periode pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang berlarut-larut.

Bank Dunia memperingatkan bahwa prospek masih bisa menjadi lebih buruk lagi.

Dalam konferensi pers, Presiden Bank Dunia, David Malpass menyatakan, pertumbuhan global bisa turun menjadi 2,1 persen pada 2022 dan 1,5 persen pada 2023, mendorong pertumbuhan per kapita mendekati nol, jika risiko penurunan terwujud.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi global tengah dihantam oleh perang, penguncian covid baru di China, gangguan rantai pasokan, dan meningkatnya risiko stagflasi.

Stagflasi merupakan periode pertumbuhan yang lemah dan inflasi tinggi yang terakhir terlihat pada 1970-an. "Bahaya stagflasi cukup besar saat ini," tulis Malpass, dalam kata pengantar laporan tersebut, Rabu (8/6).

Dia menambahkan, pertumbuhan yang lemah kemungkinan akan bertahan sepanjang dekade karena investasi yang lemah di sebagian besar dunia.

"Dengan inflasi yang sekarang berjalan pada level tertinggi selama beberapa dekade di banyak negara, dan pasokan diperkirakan tumbuh lambat, ada risiko bahwa inflasi akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," jelas Malpass.

Laporan itu memprediksi antara 2021 dan 2024, laju pertumbuhan global diproyeksikan melambat sebesar 2,7 poin persentase, lebih dari dua kali perlambatan yang terlihat antara 1976 dan 1979.

Laporan itu juga memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi pada akhir 1970-an begitu curam, sehingga memicu resesi global pada 1982, dan serangkaian krisis keuangan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang.

Direktur Unit Bank Dunia, Ayhan Kose mengatakan kepada wartawan, ada ancaman nyata di mana pengetatan kondisi keuangan yang lebih cepat dari yang diharapkan dapat mendorong beberapa negara ke dalam jenis krisis utang yang terlihat pada 1980-an.

Meskipun ada kesamaan dengan kondisi saat itu, ada juga perbedaan penting, termasuk kekuatan dollar AS dan harga minyak yang umumnya lebih rendah, serta neraca yang umumnya kuat di lembaga keuangan besar.

Untuk mengurangi risiko, Malpass menyebut, pembuat kebijakan harus bekerja untuk mengoordinasikan bantuan bagi Ukraina, meningkatkan produksi pangan dan energi, dan menghindari pembatasan ekspor dan impor yang dapat menyebabkan lonjakan harga minyak dan pangan lebih lanjut.

Ia juga menyerukan upaya untuk meningkatkan pengurangan utang, memperingatkan bahwa beberapa negara berpenghasilan menengah berpotensi berisiko; memperkuat upaya penanggulangan covid-19; dan mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon.

Bank Dunia memperkirakan inflasi global akan moderat tahun depan, tetapi kemungkinan akan tetap di atas target di banyak negara. (Tribun Network/Reuters/Kontan.co.id)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved