Menkeu Sri Mulyani Tetap Optimistis Terjadi Pemulihan Ekonomi

dampak pengetatan suku bunga AS akan berpengaruh terhadap inflasi dan juga nilai tukar, termasuk rupiah.

Editor: Vito
Kompas.com/Istimewa
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (BPMI Setpres) 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani tetap optimistis menangapi ancaman resesi global yang diungkap Bank Dunia.

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global hampir sepertiga menjadi 2,9 persen pada 2022.

Bank Dunia memperingatkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah menambah kerusakan ekonomi global yang sudah terguncang akibat pandemi covid-19. Saat ini, banyak negara tengah menghadapi resesi ekonomi.

Reuters memberitakan, Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global, mengatakan, perang di Ukraina telah memperbesar perlambatan ekonomi global, yang sekarang memasuki apa yang bisa menjadi periode pertumbuhan yang lemah dan inflasi yang berlarut-larut.

Bank Dunia memperingatkan bahwa prospek masih bisa menjadi lebih buruk lagi.

Menkeu menyatakan, jika pengetatan kebijakan suku bunga bank sentral di Amerika Serikat (AS) begitu cepat, dan kenaikannya tinggi, maka dampak terhadap perlemahan ekonomi global akan terlihat ke seluruh negara.

Menurut dia, dampak pengetatan suku bunga itu akan berpengaruh terhadap inflasi dan juga nilai tukar, termasuk rupiah.

"Secara teknis mengenai masalah pertumbuhan dan tantangan global, semuanya sependapat bahwa persoalan inflasi di dunia saat ini kontribusi dari sisi produksi lebih dominan dibandingkan permintaan," jelasnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, implikasi dari hal itu yakni kalau penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter terlalu cepat atau ketat yang tujuannya mempengaruhi sisi permintaan, sebetulnya tidak menyelesaikan masalah dari sisi produksi.

"Kan persoalan awalnya adalah dari sisi produksi, yaitu produksinya terkena disrupsi akibat perang maupun karena waktu itu pandemi," tuturnya.

Ia menilai, ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan ini akan menjadi satu tema terus-menerus dalam pembahasan di forum ekonomi dunia dari sekarang hingga 2023.

"Dinamika antara permintaan dan supply, serta instrumen mana yang dianggap paling pas, paling tepat untuk bisa menyelesaikan potensi kemungkinan terjadi stagflasi. Dengan catatan, tanpa menimbulkan risiko ekonomi yang sangat besar, ini yang akan menjadi tema di dalam kebijakan makro dan mikro, bahkan ke sektoral," terang Sri Mulyani.

Kendati demikian, eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu tetap optimistis pada 2023 momentum pemulihan ekonomi akan tetap bisa berjalan.

Namun, di sisi lain, Sri Mulyani melihat adanya risiko baru yang muncul dari pembahasan ekonomi dalam forum Islamic Development Bank, yakni inflasi.

"Dari pertemuan kami di Islamic Development Bank, pembahasan mengenai risiko global itu dirasakan betul, dan menjadi bahan pembahasan dalam meja diskusi. Di mana kami membahas mengenai munculnya risiko, terutama dari sisi kenaikan inflasi," paparnya.

Sri Mulyani menjelaskan, kenaikan harga-harga komoditas energi dan pangan akan menyebabkan pengetatan dari kebijakan moneter.

"Mungkin kami sampaikan dalam forum ini, diskusi yang muncul itu adalah menyangkut seberapa cepat dan seberapa ketat kebijakan moneter untuk menangani inflasi, yang akan berdampak pada pelemahan dari sisi produksi," tuturnya.

Sri Mulyani berujar, hal itu yang akan terus menjadi bahan pembahasan pada level kebijakan makro di semua forum dunia.

"Ini akan terus jadi pembahasan kalau kami bicara mengenai forum ekonomi dan keuangan. Termasuk, mungkin kami prediksi nanti di dalam pertemuan G20 juga ini akan muncul," tandasnya. (Tribun Network/Reuters/Kontan.co.id)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved