Kamis, 28 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Juragan Oemah Wedhus Banyumas Masih Was-was Stok Sapi Jelang Iduladha

pengelola Oemah Wedus ini mengaku sudah mulai menyetok hewan kurban namun dalam jumlah yang relatif tidak banyak dan hanya hewan kurban jenis domba.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Imah Masitoh
Kondisi domba-domba di kandang ternak Oemah Wedus, terletak di Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Kamis (9/6/2022).  

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO – Menjelang lebaran haji mendatang para pelaku usaha jual beli hewan kurban sudah mulai berbenah menyambut momentum satu tahun sekali ini, dimana masyarakat akan ramai membeli hewan ternak untuk berkurban.

Salah satu pelaku usaha jual beli hewan kurban dan peternakan di Purwokerto yakni Oemah Wedus sudah mulai menyetok hewan kurban untuk memenuhi kebutuhan konsumen jelang lebaran haji.

Namun dengan adanya Penyakit Mulut Kaki (PMK) akhir-akhir ini yang masih menyerang pada hewan ternak di beberapa daerah menjadikan pelaku usaha peternakan khawatir menjelang lebaran haji mendatang.

Gilang Wicaksono selaku pengelola Oemah Wedus ini mengaku sudah mulai menyetok hewan kurban namun dalam jumlah yang relatif tidak banyak dan hanya hewan kurban jenis domba dan kambing saja.

“Untuk sapi dari awal kita akan menyetok di sini juga. Tapi karena adanya PMK jadi was-was,” ucapnya kepada Tribunjateng.com, Kamis (9/6/2022).

Menghindari resiko kerugian yang besar pihaknya memilih untuk bekerja sama dengan pelaku usaha lain untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang akan membeli hewan kurban jenis sapi kepadanya.

“Kita memutuskan untuk tidak menyetok di sini karena resiko terlalu besar, kita kerja sama dengan teman yang ada di Beji, Kedungbanteng untuk memenuhi keinginan konsumen akan sapi ini,” jelasnya.

Dalam memasok hewan kurban, Oemah Wedus mendapatkannya dari daerah Jawa Timur yang masih zona hijau.

Pihaknya terus update informasi mengenai PMK di daerah lain.

“Ambil dari darah yang belum suspek PMK. Meskipun Jawa Timur banyak yang zona merah tapi masih ada yang hijau. Kita sudah menemukannya di daerah Ponorogo dan Madiun, sudah booking dari sekarang jadi diprioritaskan karena sudah langganan juga,” jelasnya.

Untuk mencegah PMK pada ternak-ternak di kandangnya, pihaknya rutin melakukan desinfeksi pada kandang baik setelah panen ternak maupun saat akan diisi ternak kembali. 

Selain itu pemberian vitamin juga rutin diberikan kepada hewan ternaknya untuk menjaga kekebalan tubuh ternak.

“Kalau untuk antibiotik sudah kita stop dari sekarang. Karena itu ada residunya dan baru akan hilang selama 30 hari.  Dan ini sudah mendekati hari raya jadi ini menjadi bentuk tanggung jawa moral kita kepada konsumen juga karena ada pengaruhnya bila dagingnya dikonsumsi manusia,” tambahnya.

Oemah Wedus sendiri dalam menyetok hewan kurban akan mempertimbangkan jenis hewan kurban yang paling banyak digemari di pasaran. 

Pihaknya menyediakan berbagai jenis hewan kurban seperti kambing jawarandu, kambing peranakan etawa, kambing kacang, kambing saanen, domba garut, domba ekor tipis, domba priangan, dan lain sebagainya.

“Stok awal kita research market kategori mana yang paling laku, untuk sementara kita ada 74 ekor domba, 20 kambing. Domba sudah ada yang ready sementara kambing H-14 karena penyesuaiannya lama bisa stres dan kurus. Bisa semain turun harga jadi mepet saja sekalian kita sediakannya,” ungkapnya.

Untuk daerah Purwokerto sendiri, masyarakat yang akan berkurban cenderung lebih menyukai jenis hewan kurban kambing. 

Menurut mereka kambing dinilai lebih unggul karena memiliki postur tubuh yang tinggi dibandingkan dengan domba.

“Di sini budayanya masih kambing seperti kambing Jawa Randu dan kambing peranakan etawa lebih menjadi primadona masyarakat sini. Walaupun dari segi dagingnya domba lebih banyak dibandingkan kambing” tambahnya.

Hingga akhir ini pihaknya sudah mulai menerima pesanan hewan kurban meski lebaran haji belum terlalu dekat.

“Yang pesan baru 4 kemarin, biasanya H-7 mulai banyak pesanan yang kita terima,” tambahnya.

Oemah Wedus biasa melayani pembeli berasal dari dalam kota Banyumas dan sekitarnya.

Pembeli dapat memesan melalui telefon maupun mendatangi langsung ke kandang.

“Pembeli dari Banyumas ada juga Banjarnegara dan Purbalingga. Pemesanan bisa by phone nanti tinggal cek langsung ke kandangnya," imbuhnya. 

Namun dengan kondisi sekarang adanya PMK, pihaknya mencoba untuk lebih berhati-hati nantinya saat pembeli datang akan mengecek hewan kurban ke kadang ternaknya.

Ini untuk menghindari penularan pada hewan ternak yang ada di kandangnya.

“Mungkin nantinya kita akan tanya dulu kepada pembeli yang akan mengecek sudah pernah masuk kandang lain belum, barang kali ada yang baru saja kontak dengan ternak lain yang terjangkit PMK,” ujarnya.

Dengan adanya PMK ini harga jual hewan ternak untuk kurban mengalami kenaikan harga. 

Hal ini karena populasi hewan semakin turun akibat PMK, sementara permintaan akan hewan ternak naik menjelang lebaran haji.

Sehingga tidak ada keseimbangan di pasaran, dengan ini harga akan turut naik.

“Ada peningkatan harga, tahun lalu Rp 80 ribu rupiah per kilogram hewan sekarang Rp 90 ribu per kilogramnya,” ucapnya.

PMK yang ada saat ini sangat berimbas bagi pelaku usaha jual beli hewan kurban, terlebih bertepatan dengan momentum lebaran haji yang akan berlangsung sekitar satu bulan lagi.

“Semoga PMK segera bisa diatasi mungkin ada vaksinasi masal agar khususnya peternak-peternak tidak menanggung rugi,” harapnya. (ima)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved