Pelaku Usaha Rokok Golongan III Sambut Baik Hadirnya SIHT

Rencana dibangunnya Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) disambut baik pelaku usaha rokok golongan III. 

Penulis: raka f pujangga | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ Raka F Pujangga
Buruh rokok di KIHT Kudus 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS -  Rencana dibangunnya Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) disambut baik pelaku usaha rokok golongan III. 

Kondisi Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus dinilai belum cukup memadai karena hanya cukup untuk menampung 11 perusahaan.

Pemilik Pabrik Rokok (PR)‎ Sutrisno menyebutkan, pabrik yang memiliki 150 karyawan itu tidak cukup untuk bekerja di atas lahan seluas 400 meter persegi.

Sehingga dia juga sempat izin untuk memperluas bloknya dengan membuat bangunan semi permanen.

"Karena tidak cukup, saya izin ke Bea Cukai untuk membangun bedeng (rumah sementara-red) bagi para pekerja. Jadi saya setuju kalau ada rencana dibangun SIHT," ujar dia.

‎Dia berencana untuk menyewa satu blok lagi untuk menyimpan bahan baku tembakau dan menampung buruh rokok.

"‎Rencana saya mau sewa satu lagi untuk gudang sama tempat bagi pekerja," ujar dia.

Sementara itu, ‎Kepala Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UMKM (Disnakerperinkop dan UMKM), Rini Kartika menjelaskan, antrean perusahaan rokok yang hendak masuk ke KIHT telah mencapai 17 perusahaan.

Padahal kapasitas KIHT hanya 11 perusahaan dan saat ini seluruh blok sudah penuh terisi.

Sehingga rencana pembangunan tiga gedung KIHT, dan rencana pendirian SIHT dapat menambah jumlah perusahaan.

"Nanti rencana mau ditambah gedung baru, dan juga SIHT bisa semakin banyak menampung perusahaan," ujarnya.

Pihaknya juga melakukan evaluasi terhadap perusahaan yang sudah masuk ke KIHT.‎ Pasalnya terdapat sejumlah perusahaan yang tidak aktif produksi.

Banyak dari perusahaan itu hanya berproduksi pada momentum tertentu saat terdapat pesanan.

"Kalau ada pesanan, baru produksi. Jadi tidak produksi setiap hari. Makanya perlu ada evaluasi," ujar dia.

Berdasarkan informasi, ada satu perusahaan rokok yang dibekukan dari KIHT karena dinilai tidak lagi berproduksi.

"Informasinya ada satu perusahaan yang dibekukan, sehingga ada satu slot untuk perusahaan lain masuk. Tapi informasinya dari Bea Cukai," katanya. (raf)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved