Otomotif

Harga Mobil Bekas di Semarang Melambung, Penjualan Jadi Sepi

Harga mobil bekas saat ini melambung, setelah sempat mengalami tren penurunan saat pandemi covid-19. Menurut pelaku usaha jual-beli mobil bekas, kenai

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: m nur huda
TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Seorang warga sedang melihat beberapa mobil bekas yang dipajang di Carsentro Semarang, Senin (13/6/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Harga mobil bekas saat ini melambung, setelah sempat mengalami tren penurunan saat pandemi covid-19. Menurut pelaku usaha jual-beli mobil bekas, kenaikan harga kini tercatat sekitar 20 persen.

"Kenaikan harga mobil sekarang sekitar 20 persen dari biasanya. Mobil baru mahal, (mobil bekas-Red) kami juga naik," kata pemilik showroom CP Automobil, di bursa mobil Carsentro bekas Semarang, Joyo Budi Mulyanto, Senin (13/6).

Menurut dia, kenaikan harga mobil bekas itu telah terjadi sejak momen menjelang Lebaran lalu. Kenaikan harga tercatat terjadi pada hampir semua merek mobil.

Joyo menuturkan, kenaikan harga mobil itu memberikan pengaruh signifikan terhadap penjualan mobil bekas di showroom-nya yang terjadi penurunan penjualan hingga 50 persen.

"Sebelum Lebaran (penjualan-red) naik, lumayan. Setelah Lebaran berkurang sampai 50 persen. Harga mobil naik itu penjualan jadi sepi, tapi tiap pedagang berbeda-beda (kondisi penjualan-Red)," ucapnya.

Showroom CP Autombil di Carsentro menyediakan berbagai merek mobil mulai Honda, Mitsubishi, Toyota, Nissan, hingga Daihatsu. Mobil-mobil itu dijual mulai Rp 100 juta sampai Rp 400 jutaan.

"Harga mobil bekas bergantung tahunnya juga. Biasanya harga mobil bekas turunnya 30 persen dari harga mobil baru," jelasnya.

Pelaku usaha jual-beli mobil bekas lain, Manager Dito Motor, Aga Wibawa mengungkapkan, dibandingkan dengan saat covid-19 merebak, penjualan mobil saat ini cenderung melesu.

Hal itu terlihat dari penjualan sejak momen menjelang Lebaran tahun ini yang berbeda dari tahun sebelumnya. Ia menyebut, terjadi penurunan penjualan hingga 50 persen.

"Penjualan dulu (naik-red) 50 persen, bisa. Ibarat jualan 10 unit bisa 20 unit. Tapi Lebaran tahun ini tidak seperti tahun kemarin. Kemudian setelah Lebaran ini juga, trennya sepi. Agak lesu," paparnya.

Kebingungan

Aga menyatakan, naiknya harga mobil saat ini menjadi penyebab utama sepinya penjualan. Dia menambahkan, terjadinya kenaikan harga yang cukup signifikan membuat para pelaku jual-beli kebingungan menyiasati hal itu.

"Harga (mobil bekas-Red) setelah covid-19 (reda-Red) naik. Kalau kenaikan bergantung mobilnya. Misal, dulu sebelum covid-19 sebesar Rp 100 juta, kemudian saat covid-19 turun sampai 50 persen. Setelah covid-19 ini naik lagi jadi Rp 100 juta. Tapi penurunan harga pas pandemi beda-beda, ada yang 10 persen, 20 persen, dan ada yang anjlok sampai 50 persen," terangnya.

Aga menyebut, di showroom-nya tersedia berbagai merek mobil. Mobil yang dijual ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai di bawah Rp 100 jutaan sampai Rp 400 jutaan.

"Paling laris mobil-mobil kecil atau mobil metic seperti Brio. Kebanyakan yang cari mobil rata-rata kalau yang serius, janjian dulu dari iklan. Kalau yang langsung ke sini biasanya masih bingung, 50 persen beli mobil. Sisanya, kebanyakan tidak beli karena masih survei," jelasnya. (idy/TRIBUN JATENG CETAK)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved