Fokus

Fokus : Saya Paling Berjasa

Bukan hanya bagi fans sepakbola nasional melainkan juga orang awam yang ikut cemas menunggu pencapaian anak-anak asuhan Shin Tae-yong

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Abduh Imanulhaq atau Aim wartawan Tribun Jateng 

Oleh Abduh Imanulhaq

Wartawan Tribun Jateng

KELOLOSAN tim nasional ke Piala Asia 2023 menjadi oase sejuk menyegarkan bagi bangsa ini.

Bukan hanya bagi fans sepakbola nasional melainkan juga orang awam yang ikut cemas menunggu pencapaian anak-anak asuhan Shin Tae-yong di babak kualifikasi.

Ketika Fachrudin Aryanto dan kawan-kawan mampu melewati adangan Nepal, terasa sekali ada kegembiraan yang sama yang membuncah di dalam dada. Bahkan oleh mereka yang tak menggemari permainan ini.

Melihat begitu antusiasnya masyarakat memberikan dukungan kepada kesebelasan kita, ini membuktikan bahwa sepakbola bermanfaat sebagai terapi membangkitkan kembali semangat nasionalisme.

Sementara itu, para pemain bersemangat untuk mempersembahkan kemenangan bagi negara. Tentu ini berkaitan dengan identitas kebangsaan yang sekarang terasa mulai luruh.

Lolos ke pesta sesungguhnya memberikan optimisme. Tidak lebih tidak kurang, kita ingin eksis dalam turnamen tersebut. Terus melaju hingga sejauh-jauhnya.

Optimistis, tapi kita juga harus realistis. Boleh menggantungkan dan meletakkan cita-cita setinggi langit tapi tetap sadar akan keterbatasan, akan kekurangan dalam tubuh PSSI, dalam sistem kompetisi kita.

Pendek kata dalam tubuh dunia persepakbolaan kita yang terus berusaha bangkit setelah melulu dirundung masalah.

Secara umum memang timbul kesan, Indonesia seakan sudah larut dalam suasana pesta setelah lolos ke Piala Asia. Bahwa lawan sekuat apa pun bisa dihadapi, ditaklukkan.

Euforia itu muncul karena Indonesia melaju setelah melewati grup neraka. Di ajang sepakbola internasional, jelas Kuwait yang menjadi tuan rumah grup kualifikasi lebih dijagokan karena materi tim yang lebih baik.

Euforia itu hendaknya tidak membuat lengah di perhelatan sesungguhnya. Jangan sampai konsentrasi tidak dijaga dan dibiarkan terganggu oleh sejumlah aktivitas yang kurang mendukung.

Termasuk terganggu oleh klaim-klaim yang mendaku sebagai pihak paling berjasa. Saya paling berjasa, dia paling berjasa, Anda paling berjasa.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved