Berita Sragen

Mundur Jadi Pegawai Honorer, Nurhayati Sukses Buka Toko di Sragen

Wacana penghapusan tenaga honorer pada Tahun 2023 mendatang cukup membuat pegawai non PNS di instansi pemerintah resah. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Khoiruk Muzakki
Nurhayati ,mantan pegawai honorer melayani pelanggan di tokonya, Sabtu (18/6/2022)  

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN- Wacana penghapusan tenaga honorer pada Tahun 2023 mendatang cukup membuat pegawai non PNS di instansi pemerintah resah.  


Bagaimana tidak, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun mereka telah bekerja kepada negara untuk menafkahi keluarga. Bahkan ada harapan lebih mereka bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). 


Alih-alih berharap diangkat PNS, sebagian tenaga honorer kini ketar ketir akan nasibnya kelak saat wacana itu terealisasikan. 


Namun rasa itu tidak melanda Nurhayati, warga Desa Puro Kecamatan Karangmalang, Sragen. Ia kini tak lagi berstatus tenaga honorer. Sebelum ada wacana penghapusan honorer, Nurhayati memutuskan mengundurkan diri (resign) dari sekolah tempatnya mengajar, 2019 lalu. 


Nurhayati sempat 7 tahun wiyata bakti di sekolah dasar negeri di desanya sebagai tenaga kepustakaan. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dan banting setir untuk berwirausaha. 


Menjadi pegawai di pemerintah sempat menjadi cita-citanya dulu. Karenanya ia harus bekerja keras agar bisa kuliah. Nurhayati yang bekerja di pabrik dengan gaji UMR nekat mendaftar di Universitas Terbuka. 


Ia harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya kuliah. Ia juga harus pandai membagi waktu antara kuliah dan bekerja. 


"Saya kerja sambil kuliah. Harapannya gak ingin kerja di pabrik terus, " katanya, Sabtu (18/6/2022) 


Hingga ia berhasil menyandang predikat sarjana. Nurhayati akhirnya diterima di sekolah dasar negeri sebagai tenaga kepustakaan. Ia juga mengajar dan sempat diminta menjadi wali kelas.  Gajinya sebulan bekerja hanya sekitar Rp 200 ribu. 


Tapi ia sudah menyadari itu dari sebelum mendaftar sebagai pegawai di sekolah. Bahkan, gajinya itu jauh di bawah penghasilannya di pabrik yang hanya butuh ijasah SMA. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved