Berita Internasional

Jurnalis Dom Phillips yang Hilang di Hutan Amazon Ternyata Tewas Ditembak dengan Senapan Berburu

Jurnalis Inggris, Dom Phillips sempat dilaporkan hilkang di Hutan Amazon Brasil. Kabar terbaru, Kepolisian Brasil mengungkapkan, jurnalis Dom Phillip

Editor: m nur huda
JOAO LAET / AFP
Koresponden asing veteran Dom Phillips (tengah) berbicara dengan dua pria pribumi di Aldeia Maloca Papiú, Negara Bagian Roraima, Brasil, pada 16 November 2019. Phillips hilang saat meneliti sebuah buku di Lembah Javari Amazon Brasil dengan pakar adat Bruno Pereira. Pereira, seorang ahli di badan urusan adat Brasil, FUNAI, dengan pengetahuan mendalam tentang wilayah tersebut, secara teratur menerima ancaman dari para penebang dan penambang yang mencoba menyerang tanah kelompok adat yang terisolasi. 

TRIBUNJATENG.COM, AMAZON - Jurnalis Inggris, Dom Phillips sempat dilaporkan hilkang di Hutan Amazon Brasil.

Kabar terbaru, Kepolisian Brasil mengungkapkan, jurnalis Dom Phillips ternyata tewas ditembak.

Pada Sabtu (18/6/2022), mereka mengungkapkan senjata yang digunakan untuk menembaknya adalah senapan berburu.

Phillips dan ahli suku pribumi sekaligus pemandunya, Bruno Pereira dilaporkan menghilang sejak 5 Juni lalu saat melakukan perjalanan ke Lembah Ulvare.

Selang 10 hari kemudian jasad manusia ditemukan setelah seorang tersangka mengaku telah mengubur jasad mereka.

Dikabarkan ABC News, berdasarkan laporan autopsi ditemukan bahwa Phillips tewas ditembak di dadanya, sedangkan Perreira ditembak di kepala.

Hasil dari autopsy tersebut juga mengindikasikan senjata yang digunakan adalah senapan dengan amunisi tipe untuk berburu.

Tersangka pertama merupakan nelayan bernama Amarildo da Costa de Oliveira, yang ditangkap pertama pada pekan ini.

Saudaranya, Oseney Da Costa, juga ditangkap meski ia membantah terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Sedangkan tersangka ketiga, Jeferson da Silva Lima, atau juga dikenal sebagai Pelado da Dinha, menyerahkan diri ke kepolisian kota Atalaia do Norte pada Sabtu.

Phillips, 57 tahun, telah tinggal di Brasil selama lebih dari 10 tahun, dan merupakan kontributor dari The Guardian.

Ia dilaporkan berada di area hutan Amazon saat melakukan penelitian untuk membuat buku.

Sementara itu, Pereira, 41 tahun, yang tengah cuti dari posisinya di Badan Pemerintahan Masalah Pribumi Funai, adalah seorang ahli dari suku pribumi yang terisolasi di Amazon.

Menurut kelompok Hak Asasi Manusia suku pribumi, Pereira menerima ancaman kematian dengan melakukan perjalanan ini.

Area tempat mereka bepergian diketahui sebagai tempat untuk pemancingan ilegal, penambangan ilegal, pemotongan kayu ilegal dan aktivitas perdagangan narkoba.

Wilayah itu juga dikenal karena berbagai konflik kekerasan antara berbagai kelompok kriminal, agen pemerintah dan suku pribumi.

Konflik-konflik itulah yang didokumentasikan Phillips dan Perreira.(*KompasTV)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved