Stikes Telogorejo Semarang

Pembentukan Karakter dan Soft Skill untuk Tenaga Kesehatan

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, tenaga profesional yang terlibat haruslah memiliki hard skill yang baik.

Penulis: Abduh Imanulhaq | Editor: galih permadi
Istimewa
Ilustrasi softskill Tenaga Kesehatan 

Oleh : Joan Ariesta Puspasari, S.Psi, M.Psi, Psikolog - Dosen Bimbingan Konseling

Menurut UU No.36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Masih menurut UU yang sama, disebutkan ada beberapa kelompok tenaga kesehatan, yakni
1. tenaga medis;
2. tenaga psikologi klinis;
3. tenaga keperawatan;
4. tenaga kebidanan;
5. tenaga kefarmasian;
6. tenaga kesehatan masyarakat;
7. tenaga kesehatan lingkungan;
8. tenaga gizi;
9. tenaga keterapian fisik;
10. tenaga keteknisian medis;
11. tenaga teknik biomedika;
12. tenaga kesehatan tradisional; dan
13. tenaga kesehatan lain.

Ilustrasi softskill Tenaga Kesehatan
Ilustrasi softskill Tenaga Kesehatan

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, tenaga profesional yang terlibat haruslah memiliki hard skill yang baik. Namun, hal ini saja tidak cukup, soft skill dan karakter juga akan menentukan keberhasilan pengobatan dan kepuasan pasien. Maka dari itu, setiap tenaga kesehatan perlu untuk melewati pendidikan pembentukan karakter dan soft skill yang baik.

Tentang Soft Skill

Apa yang dimaksud dengan soft skill? Soft skill sebenarnya merupakan kemampuan mengelola proses pekerjaan (organizing), hubungan antar manusia (human relation), dan membangun interaksi dengan orang lain, contohnya kepemimpinan, komunikasi, dan hubungan interpersonal.
Meski sudah memiliki hard skill yang mumpuni, bila tidak dibarengi dengan soft skill yang baik, orang akan sulit beradaptasi dengan pekerjaannya sendiri maupun rekan sejawatnya. Hal ini tidak hanya terjadi di dunia kesehatan, tetapi juga di bidang pekerjaan manapun.
Ada banyak sekali jenis soft skill. Akan tetapi, mengutip Schulz (2008), soft skill yang paling krusial dimiliki seseorang adalah keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berkomunikasi akan memengaruhi soft skill yang lain seperti manajemen konflik dan mengelola diskusi.

Soft Skill Tenaga Kesehatan

Puspita (2013), menyebutkan etika adalah salah satu soft skill yang tidak dapat dipisahkan dari profesi kedokteran. Begitu pula dengan seorang perawat, etika keperawatan akan menjadi pedoman bagi seorang perawat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan etis.

Soft skill lain yang juga dibutuhkan oleh tenaga kesehatan adalah kemampuan berpikir taktis dan organisasional. Kemampuan organisasional terkait kemampuan dalam merencanakan segala sesuatunya agar tindakan yang dilakukan dapat mencapai tujuan dari pelayanan.

Berkaitan dengan keterampilan berkomunikasi, soft skill seperti kemampuan berdiplomasi, regulasi emosi, empati juga penting untuk dikembangkan seorang tenaga kesehatan. Kemampuan berdiplomasi nantinya juga akan berimbas pada kemampuan untuk bekerja sama dengan sejawat lainnya.

Integritas tenaga kesehatan saat melayani pasien adalah soft skill lain yang menentukan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Integritas ini tercermin dari sikap yang mengutamakan pasien, perilaku baik, dan melakukan sesuatu sesuai yang dikatakannya.

Dalam Standar Kompetensi Dokter Umum sendiri, terdapat tiga area kompetensi yang sebenarnya termasuk dalam kategori soft skill, yaitu profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif. Sedangkan dalam Standar Kompetensi Perawat ada satu area kompetensi perawat yang merupakan kategori soft skill, yaitu praktek profesionalitas, etis, legal, dan peka budaya.

Pembentukan Soft Skill

Untuk bisa memiliki soft skill yang cukup, seorang tenaga kesehatan perlu melalui serangkaian pelatihan dan praktik. Evaluasi berkala dan insentif tenaga kesehatan dari tempat bekerja bisa jadi cara untuk mendorong pengembangan diri dan profesionalisme tenaga kesehatan tersebut.

Meningkatkan soft skill juga bisa dilakukan dengan cara melatih diri sendiri dengan terlebih dahulu menyadari apa-apa saja keterampilan yang perlu dibenahi atau ditingkatkan. Soft skill bisa dibentuk dengan mengimplementasikan kebiasaan-kebiasaan baik dalam sehari-hari hingga akhirnya kebiasaan tersebut berubah menjadi karakter.

Soft skill perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan tenaga kesehatan, karena bagaimanapun 75 persen kesuksesan seseorang itu ditentukan oleh keterampilannya, dan hanya 25 persen-nya saja yang ditentukan oleh pengetahuan teknikal (Stanford Research Institute International dan the Carnegie Melon). (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved