Virus Monkeypox Masuk Asia Tenggara, Dokter Singapura: Mungkin bakal Ada Kejutan

Kasus di Singapura itu melibatkan seorang pria Inggris yang berada di negara kota itu antara 15 dan 17 Juni.

Editor: Vito
kompas.com
ilustrasi penderita monkeypox 

TRIBUNJATENG.COM, SINGAPURA - Kasus monkeypox atau cacar monyet terus menyebar dan ditemukan di sejumlah negara. Terbaru, Singapura melaporkan temuan kasus pertama infeksi virus itu.

Dilaporkan CNN, kasus di Singapura sekaligus merupakan yang pertama dikonfirmasi di Asia Tenggara tahun ini.

Kasus itu melibatkan seorang pria Inggris yang berada di negara kota itu antara 15 dan 17 Juni.

Pria Inggris itu dinyatakan positif cacar monyet pada hari Senin setelah mengalami ruam kulit dan mengalami sakit kepala dan demam minggu lalu.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan, selama di negaranya pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar hotel.

Dia hanya keluar hotel untuk mengunjungi tempat pijat dan makan di tiga tempat makan pada 16 Juni.

"Selama periode ini, dia sebagian besar tinggal di kamar hotelnya, kecuali untuk mengunjungi tempat pijat dan makan di tiga tempat makan pada 16 Juni," kata Kementerian Kesehatan Singapura, Selasa (21/6).

Sebanyak 13 orang yang terlibat kontak dekat dengan pria itu telah diidentifikasi, dan pelacakan kontak sedang berlangsung, kata Kementerian itu. Kini pria itu dirawat di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular.

Singapura terakhir mendeteksi kasus cacar monyet pada 2019, pada seorang pria berusia 38 tahun dari Nigeria yang telah melakukan perjalanan ke negara itu untuk menghadiri pernikahan.

"Cacar monyet bukanlah penyakit baru jadi kami sebenarnya tahu sedikit tentang penyakit dan virus [yang] telah ada selama beberapa waktu. Tetapi ada perubahan dalam cara penyakit ini beredar dan menyebar," kata Khoo Yoong Khean, seorang dokter dan petugas ilmiah di Pusat Kesiapsiagaan Wabah Duke-NUS di Singapura.

Menurut dia, pelajaran dari pandemi covid-19 dapat diterapkan pada potensi wabah cacar monyet di negara itu.

"Akan bijaksana bagi negara-negara untuk memperhatikan. Kami memiliki banyak alat yang telah kami gunakan untuk covid-19, dan itu akan berguna sekarang: metode penelusuran kontrak, protokol karantina, dan bahkan strategi imunisasi massal jika diperlukan," jelasnya.

"Meskipun saya tidak berpikir kita perlu terlalu khawatir tentang situasi global, dan kita mungkin sekarang berada di tempat yang lebih baik, wabah penyakit tidak pernah dapat diprediksi seperti yang kita tahu."

"Kita mungkin akan mendapat kejutan dari cacar monyet dalam waktu dekat, jadi kita harus terus memperkuat sistem kesehatan dan pengawasan kami, bekerja sama dengan negara lain, dan membuat keputusan yang lebih baik daripada yang kami lakukan selama pandemi covid," tambahnya. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved