Berita Nasional

Berkah Lonjakan Harga Komoditas, Sri Mulyani Yakin Indonesia Tidak Krisis

Menkeu Sri Mulyani Indrawati tidak menampik bahwa sebanyak 60 negara berada di posisi sangat rentan. Perang antara Rusia dan Ukraina hingga kenaikan

Editor: m nur huda
instagram
Menkeu Sri Mulyani. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati tidak menampik bahwa sebanyak 60 negara berada di posisi sangat rentan. Perang antara Rusia dan Ukraina hingga kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu krisis keuangan.

"Banyak negara berpenghasilan rendah dalam risiko yang sangat mengerikan atau mendekati krisis keuangan. Oleh karena itu, dunia perlu merespon," katanya, dalam UI International Conference on G20, Rabu (22/6/2022).

Baca juga: Jokowi Ungkap Ada 60 Negara di Dunia Ekonominya Akan Ambruk, 42 Sudah Pasti

Bendahara Negara itu menjelaskan, pemicu krisis keuangan adalah krisis pangan dan krisis energi yang berdampak pada lonjakan inflasi. Kondisi fiskal yang terjepit membuat negara berpenghasilan rendah tidak mampu menahan rasio utang.

"Beberapa negara rasio utang sudah di atas 60 persen, bahkan ada yang 80 persen, lalu 100 persen terhadap PDB. Untuk negara yang berpenghasilan rendah dan rentan situasinya menjadi tidak berkelanjutan," tuturnya.

Menurut dia, ketika AS menaikkan suku bunga acuan, maka yang terjadi adalah capital outflow. Dampak dari situasi tersebut adalah perlambatan perekonomian dan kondisi yang dinamakan stagflasi.

“Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik. Kasus covid-19 yang terkendali dan pemulihan ekonomi yang berlanjut menjadi modal yang kuat,” ucapnya.

Sri Mulyani menyatakan, hal itu masih ditambah dengan durian runtuh dari lonjakan harga komoditas internasional yang mendorong penerimaan negara meningkat drastis.

Menkeu menerangkan, dana tambahan tersebut digunakan untuk menahan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi dan pangan, serta mengurangi rencana penerbitan surat utang.

"Dengan penerimaan yang kuat dari commodity boom, rasio utang kita terhadap PDB sebenarnya telah turun 13 persen,” ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menuturkan, sebanyak 60 negara di dunia sedang menghadapi tekanan dampak dari pandemi covid-19 dan krisis ekonomi global.

Jokowi menekankan pernyataannya tersebut berdasarkan perhitungan organisasi bank dunia, dana moneter dunia (IMF), dan PBB.

"Saya diberitahu angka-angkanya, ngeri kita. Bank dunia menyampaikan, IMF menyampaikan, UN PBB menyampaikan. Terakhir baru kemarin (Senin-Red), saya mendapatkan informasi, 60 negara akan ambruk ekonominya, 42 dipastikan sudah menuju ke sana," ujarnya, saat Rakernas PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Selasa (21/6).

Jaga-jaga

Menurut dia, tingginya jumlah negara yang kemungkinan kolaps akan sulit dibantu oleh lembaga-lembaga internasional.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved