Opini

Opini Gagah Putra Pamungkas: Strategi Pengembangan Bisnis Hiburan di Era VUCA

PANDEMI covid-19 membuat dunia makin dalam memasuki era VUCA atau Volatile, Uncertainty, Complex dan Ambiguous. Empat istilah ini menggambarkan kondis

Editor: m nur huda
TRIBUN JATENG CETAK
Opini Ditulis Oleh Gagah Putra Pamungkas (Magister Psikologi Industri dan Organisasi Unika Soegijapranata) 

Opini Ditulis Oleh Gagah Putra Pamungkas (Magister Psikologi Industri dan Organisasi Unika Soegijapranata)

TRIBUNJATENG.COM - PANDEMI covid-19 membuat dunia makin dalam memasuki era VUCA atau Volatile, Uncertainty, Complex dan Ambiguous. Empat istilah ini menggambarkan kondisi dunia hari ini yang semakin cepat berubah, bergejolak, tidak pasti, kompleks dan tidak jelas (Lawrence, 2013).

Ekonomi negara-negara di dunia sedang tidak baik-baik saja. Bahkan Presiden Jokowi menyebut ekonomi ada 60 negara di dunia akan ambruk terdampak pandemi dan krisis ekonomi. Perkiraan ini berdasarkan perhitungan organisasi bank dunia, IMF dan PBB. Presiden juga minta masyarakat Indonesia berjaga-jaga, dan waspada. Indonesia saat ini tidak berada pada posisi normal. (Kompas.com).

Saat ini memang sudah ada banyak pelonggaran untuk kegiatan masyarakat. Sehingga diharapkan ekonomi bisa tumbuh lagi dan menggeliat. Dampak pandemi tidak serta merta hilang meski penularan corona bisa dikendalikan.

Dunia hiburan

Ekonomi sedang tidak stabil. Hal itu mempengaruhi sektor industri, termasuk industri hiburan. Industri hiburan yang tidak mampu beradaptasi dengan situasi ini pasti mengalami penurunan omzet drastis, bahkan bangkrut.

Seperti wawancara yang dilakukan ke pemilik usaha karaoke di Semarang (https://www.gatra.com/) bahwa omzet cenderung menurun 20 persen setiap tahun. Pelanggan makin minim, terutama saat pemerintah membatasi secara ketat, jam buka dibatasi, dan ada razia malam, pengurangan mobilitas dan PPKM.

Puncaknya saat ada kebijakan pemerintah terkait pembatasan kegiatan masyarakat Jawa Bali pada 11-25 Januari 2021, yang juga diikuti oleh Pemkot Semarang. Hal ini sangat berdampak pada omzet industri hiburan di Kota Semarang.

Penurunan jumlah pelanggan karena mobilitas masyarakat yang dibatasi mengakibatkan hanya sedikit orang bisa beraktivitas di luar rumah. Data menunjukkan pelanggan yang datang tinggal 20 persen (https://halosemarang.id/). Banyak pelanggan mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hiburan.

Terbukti dari perkataan Yuanita, Head of Marketing Joox Indonesia (https://www.jawapos.com/), terjadi kenaikan pengguna karaoke sebanyak 30 persen sejak awal masa pandemi melalui aplikasi joox. Dari riset yang dilakukan, musik menjadi hiburan utama untuk menemani masyarakat selama pandemi.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved