Berita Internasional

Virus Cacar Monyet Sudah Masuk Asia Tenggara, Terbaru di Singapura

Kasus monkeypox atau cacar monyet terus menyebar dan ditemukan di sejumlah negara termasuk Asia Tenggara. Terbaru, Singapura dan Korea Selatan (Korsel

Editor: m nur huda
punch media
Penderita cacar monyet atau monkeypox. Kasus monkeypox atau cacar monyet terus menyebar dan ditemukan di sejumlah negara termasuk Asia Tenggara. Terbaru, Singapura dan Korea Selatan (Korsel) melaporkan temuan kasus pertama infeksi virus itu. 

TRIBUNJATENG.COM, SINGAPURA - Kasus monkeypox atau cacar monyet terus menyebar dan ditemukan di sejumlah negara termasuk Asia Tenggara. Terbaru, Singapura dan Korea Selatan (Korsel) melaporkan temuan kasus pertama infeksi virus itu.

Dilaporkan CNN, kasus di Singapura sekaligus merupakan yang pertama dikonfirmasi di Asia Tenggara tahun ini. Kasus itu melibatkan seorang pria Inggris yang berada di negara kota itu antara 15 dan 17 Juni.

Pria Inggris itu dinyatakan positif cacar monyet pada hari Senin setelah mengalami ruam kulit dan mengalami sakit kepala dan demam minggu lalu.

Baca juga: Prancis Sudah Deteksi 277 Kasus Cacar Monyet, Meningkat Tajam Dalam 5 Hari

Baca juga: WHO Tentukan Klasifikasi Perhatian Dunia soal Cacar Monyet Hari Ini

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan, selama di negaranya pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar hotel. Dia hanya keluar hotel untuk mengunjungi tempat pijat dan makan di tiga tempat makan pada 16 Juni.

"Selama periode ini, dia sebagian besar tinggal di kamar hotelnya, kecuali untuk mengunjungi tempat pijat dan makan di tiga tempat makan pada 16 Juni," kata Kementerian Kesehatan Singapura, Selasa (21/6).

Sebanyak 13 orang yang terlibat kontak dekat dengan pria itu telah diidentifikasi, dan pelacakan kontak sedang berlangsung, kata Kementerian itu. Kini pria itu dirawat di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular.

Singapura terakhir mendeteksi kasus cacar monyet pada 2019, pada seorang pria berusia 38 tahun dari Nigeria yang telah melakukan perjalanan ke negara itu untuk menghadiri pernikahan.

"Cacar monyet bukanlah penyakit baru jadi kami sebenarnya tahu sedikit tentang penyakit dan virus [yang] telah ada selama beberapa waktu. Tetapi ada perubahan dalam cara penyakit ini beredar dan menyebar," kata Khoo Yoong Khean, seorang dokter dan petugas ilmiah di Pusat Kesiapsiagaan Wabah Duke-NUS di Singapura.

Menurut dia, pelajaran dari pandemi covid-19 dapat diterapkan pada potensi wabah cacar monyet di negara itu.

"Akan bijaksana bagi negara-negara untuk memperhatikan. Kami memiliki banyak alat yang telah kami gunakan untuk covid-19, dan itu akan berguna sekarang: metode penelusuran kontrak, protokol karantina, dan bahkan strategi imunisasi massal jika diperlukan," jelasnya.

"Meskipun saya tidak berpikir kita perlu terlalu khawatir tentang situasi global, dan kita mungkin sekarang berada di tempat yang lebih baik, wabah penyakit tidak pernah dapat diprediksi seperti yang kita tahu."

"Kita mungkin akan mendapat kejutan dari cacar monyet dalam waktu dekat, jadi kita harus terus memperkuat sistem kesehatan dan pengawasan kami, bekerja sama dengan negara lain, dan membuat keputusan yang lebih baik daripada yang kami lakukan selama pandemi covid," tambahnya.

Kasus di Korsel

Sementara itu, Korsel mengonfirmasi kasus pertama cacar monyet di negara tersebut pada Rabu (22/6). Setelah kemunculan kasus pertama cacar monyet, Negeri Gingseng itu berjanji untuk memperkuat sistem pemantauan dan responsnya, sebagaimana dilansir Reuters.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved