Berita Jateng

Wagub Taj Yasin Sebut Kearifan Lokal menjadi Modal Dasar untuk Hidup di Era Globalisasi

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, menyatakan kearifan lokas merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia

Penulis: hermawan Endra | Editor: muslimah
Istimewa
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Online yang diselenggarakan Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Diponegoro, Rabu (26/06/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, menyatakan kearifan lokas merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia, yang menjadi modal dasar untuk hidup di era globalisasi. 

Mengingat, kearifan lokal bukanlah sesuatu yang patut diresahkan, karena banyak kearifan lokal bangsa Indonesia yang tidak lekang dimakan zaman.
 
Hal itu disampaikan, orang nomer dua di Jawa Tengah, saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan Online yang diselenggarakan Program Studi Di luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Diponegoro, Rabu (26/06/2022).

Wakil Gubernur Taj yasin menuturkan, di era globalisasi pasti memang ada perubahan-perubahan.  Kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu, jangan sampai ditinggalkan. Tetapi, cukup disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Taj Yasin mencontohkan, gerakan Jogo Tonggo untuk mengatasi pandemi covid - 19 di Jawa Tengah yang sebenarnya mengadopsi budaya siskamling (Sistem Keamanan Keliling). Pada masa sekarang, budaya siskamling sudah hampir ditinggalkan.

“Bahwa dulu itu orang Jateng itu ada yang namanya siskamling. Ronda. Ronda itu kan saat ini juga sudah dilupakan. Ya kan? Di mana-mana sudah (hampir) tidak ada. Tetapi kemarin itu menjadi pengakuan beberapa negara (soal) ronda itu, tapi dengan nama yang lain. Kalau di Jateng kemarin kita namai Jogo Tonggo,” bebernya di Rumah Dinas Rinjani.

Pemerintah Australia dan Denmark, lanjutnya, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang melakukan penanganan covid 19 berbasis potensi masyarakat melalui Jogo Tonggo. Program ini mempertimbangkan kearifan lokal dan potensi geografis di masing-masing wilayah.

“Rasa-rasanya ini sebenarnya bukan kehebatan kita. Kita hanya mengembalikan kebiasaan kita saja. Artinya ada identitas lokal yang perlu kita pertahankan seperti Jogo Tonggo. Tapi Jogo Tonggo kita perbarui karena dulu kalau Jogo Tonggo itu kan kalau ada kebakaran, ada maling, kita ubah,” ucapnya.

Perubahan itu, kata wagub, untuk menyesuaikan penanganan persoalan yang saat ini dialami. Seperti sekarang ini pemerintah sedang mengatasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak, maka Jogo Tonggo dimodifikasi menjadi Jogo Ternak. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved