Berita Banyumas

Mengenal Barisan Relawan ODGJ, Sosok Pahlawan Kemanusiaan di Banyumas: Banyak Pengalaman Tak Terlupa

Sejak saat itulah dia berniat ingin mempertemukan orang-orang yang hilang di jalanan dengan keluarganya kembali

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muslimah

Emilia mengaku merasa tidak keberatan ketika harus memandikan, membuang kotoran, atau bahkan hal-hal lain yang dianggap orang lain menjijikan. 

"Kita bisa buktikan ODGJ bisa sembuh dan ada yang sukses dan menjalani hidup normal kembali," terangnya. 

Bahkan ada juga contoh ODGJ yang kembali normal dan sukses hingga ada yang menjadi pengusaha batu bata, menikah, bekerja dan lain sebagainya. 

Para relawan ini juga ingin membuktikan kepada para pejabat di dinas-dinas bahwa kerja mereka berdampak baik. 

Dari 301 ODGJ yang pernah diselamatkan oleh para relawan ada beberapa yang cukup membekas di hati Sapto, Emilia dan Teguh.

Relawan ODGJ Banyumas, Emilia Prabasari (tengah) saat berinteraksi dengan salah satu ODGJ di rumah singgah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Banyumas, Kamis (23/6/2022).
Relawan ODGJ Banyumas, Emilia Prabasari (tengah) saat berinteraksi dengan salah satu ODGJ di rumah singgah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsospermades) Banyumas, Kamis (23/6/2022). (TribunJateng.com/Permata Putra Sejati)

Mereka bercerita ada ODGJ yang hilang 23 tahun akhirnya dapat diketemukan lagi dengan keluarga.

Ada pula yang paling jauh dari Lampung juga akhirnya dapat berkumpul lagi dengan keluarga. 

"Saya paling berkesan dengan salah satu ODGJ yang pertama kali saya lihat dan bantu. 

Namanya pak Rosidin dan saya melihat betul bahwa ternyata begini ketika dia sembuh dan lucunya dia minta TV," ungkapnya. 

Sementara itu Teguh bercerita salah satu ODGJ yang berkesan baginya adalah  Miswanto, karena dia sendiri sudah lama dan sembuh hampir 100 persen.

"Jadi itu kita rokok bersama, main Play Station dan kerja bakti bersama dan dia orang Madiun. 

Saya ikut mengantarnya ke Madiun," katanya. 

Dari upaya mempertemukan dengan pihak keluarga itulah memang muncul santunan kepada para relawan.

Akan tetapi dari para relawan ODGJ itu justru menolaknya dan menganggap santunan itu dikembalikan lagi pada keluarga untuk keperluan ODGJ

"Kita kembalikan lagi karena mereka sebenarnya rata-rata kalangan menengah ke bawah tapi yang kalangan atas ada juga. 

Tapi kita percaya pasti dapat balasan lain," imbuh Sapto. 

Tantangan utama dalam mengevakuasi adalah ketika ODGJ tersebut suka memberontak atau melawan. 

Ditendang, dipukul, atau bahkan disabet oleh para ODGJ adalah sesuatu hal yang biasa. 

Namun menurut Emilia kunci utamanya adalah rasa kasih sayang dan tulus ketika berinteraksi dengan pasien ODGJ

"Saya pernah mengevakuasi sendiri pasien ODGJ yang menurut laporan warga itu mengamuk dan memecahkan kaca rumah.

Tapi saya perlahan dekati dan alhamdulillah cukup bacaan Al-Fatihah dia nurut sama saya dan mau saya mandikan dan bersihkan," tuturnya. 

Bukan hanya mengevakuasi ODGJ di jalanan dalam praktiknya para relawan juga menolong para ODGJ yang dipasung. 

Ketika berhasil ditolong para relawan tidak berhenti disitu saja mereka juga ikut membuatkan segala macam administrasi mulai dari fasilitas kesehatan hingga dokumen kependudukan. 

Gangguan mental tidak melihat siapa-siapanya banyak dari mereka yang ternyata adalah seorang sarjana, guru ngaji, pegawai dan lainnya. 

Masalahnya juga beragam mulai dari masalah percintaan, kecanduan game, diguna-guna dan banyak lagi. 

Dari situlah para relawan belajar bagaimana seseorang bisa menjadi tergganggu kesehatan mentalnya berdasarkan pemicu masalahnya. 

Mereka saat ini mengaku butuh support dari masyarakat yang punya kesadaran ikut membantu ODGJ terutama dalam hal kebutuhan pakaian. 

Mereka lebih menerima bantuan sandang seperti pakaian, atau peralatan kebersihan seperti sarung tangan dan lainnya. (jti) 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved