Taliban Hentikan Operasi Pencarian dan Penyelamatan Korban Gempa Afghanistan

Operasi penyelamatan telah selesai, korban selamat telah ditarik dari puing-puing gempa bumi

Editor: Vito
Bakhtar News Agency/AFP via Tribunews
Foto ini diambil pada 22 Juni 2022 dan diterima sebagai izin dari Kantor Berita Bakhtar yang dikelola pemerintah Afghanistan, menunjukkan tentara dan pejabat Masyarakat Bulan Sabit Merah Afghanistan, mengevakuasi korban gempa menggunakan sebuah helikopter di daerah yang dilanda gempa di distrik Gayan, provinsi Paktika, Afghanistan. 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Kementerian pertahanan Taliban mengklaim pada bahwa 90 persen operasi pencarian dan penyelamatan telah selesai pada Jumat (24/6), setelah dilakukan sejak Rabu pagi.

Mohammad Nassim Haqqani, juru bicara kementerian bencana, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa operasi pencarian telah selesai.

Ia tidak menjelaskan mengapa pencarian korban dihentikan setelah sekitar 48 jam. Menurut dia, korban selamat telah ditarik dari puing-puing gempa bumi lainnya setelah waktu yang jauh lebih lama.

"Operasi penyelamatan telah selesai, tidak ada yang terjebak di bawah puing-puing," kata Mohammad Ismail Muawiyah, juru bicara komandan militer Taliban di provinsi Paktika yang paling parah dilanda bencana, kepada kantor berita Reuters, Kamis (23/6), dilaporkan Aljazeera.

Meski demikian, lokasi terpencil membuatnya semakin sulit untuk mengangkut yang terluka. Beberapa harus diterbangkan ke rumah sakit dengan helikopter militer Taliban. Saat ini, helikopter militer tidak lagi mengangkut korban yang terluka, tetapi mengirimkan persediaan.

Pejabat Taliban memberi tahu, operasi penyelamatan telah selesai dan sekarang berakhir. Kebutuhan yang paling mendesak adalah tempat tinggal bagi ratusan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

“Bantuan sudah sampai ke daerah dan terus berlanjut, tapi masih dibutuhkan lebih banyak lagi,” kata Sharafat Zaman, juru bicara Kementerian Kesehatan, dikutip dari Aljazeera.

Jurnalis Ali Latifi melaporkan kepada Al Jazeera dari provinsi Paktika dan mengatakan situasi di lapangan sangat buruk. Pengamatan dari helikopter memperlihatkan distrik-distrik di daerah pegunungan tersebut yang letaknya berjauhan dengan fasilitas publik, terutama fasilitas kesehatan.

“Ketika Anda berada di helikopter ini dan Anda terbang di atas distrik-distrik ini, Anda melihat bahwa mereka pada dasarnya terletak di pegunungan ini dan di lereng bukit yang semuanya tidak beraspal, daerah berbatu, seluruh rumah terbuat dari lumpur. Daerah yang benar-benar miskin, di mana orang memiliki standar hidup paling dasar,” katanya.

“Bahkan klinik terdekat dari salah satu distrik tempat kami berada, mereka mengatakan jaraknya 30 menit, dan bahkan itu adalah klinik swasta yang akan menghabiskan banyak uang untuk dikunjungi orang. Dan sekali lagi untuk sampai ke sana sangat sulit.” paparnya. (Tribunnews/Kompas.com)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved