Fokus

Fokus : Rob (bakal) Jadi Komoditas Politik

Persoalan rob di wilayah sepanjang pantura Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang sepertinya sudah semakin mengkhawatirkan.

Fokus : Rob (bakal) Jadi Komoditas Politik
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
GALIH Pujo Asmoro wartawan Tribun Jateng

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Persoalan rob di wilayah sepanjang pantura Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang sepertinya sudah semakin mengkhawatirkan.

Atau mungkin bisa jadi, karena banyaknya pemberitaan plus digoreng di media sosial dengan kepentingannya masing-masing, membuat rob yang terjadi beberapa waktu belakangan kian mengerikan.

Namun apapun itu, persoalan rob masih dan (sepertinya) masih akan terus terjadi.

Ada beberapa faktor yang jadi latar belakang rob. Pertama adalah astronomis. Yakni gaya gravitasi Bulan - Bumi - Matahari.

Pada saat posisi Bulan dekat dengan Bumi (perigee), hal itu akan menyebabkan naiknya tinggi muka air laut. Lalu ada gelombang tinggi, cuaca, serta penurunan muka tanah (subsiden).

Perkara astronomi, cuaca, dan gelombang tinggi, merupakan hal yang tidak bisa dikendalikan manusia. Namun tidak demikian dengan penurunan muka tanah.

Satu di antara penyebab utama penurunan muka tanah adalah pengambilan air bawah tanah. Pemanfaatan air tanah besar-besaran berakibat pada perubahan batuan di mana pori-pori yang semula berisi air jadi kosong.

Selain itu, penurunan muka tanah juga dikarenakan karena konsolidasi natural atau terjadinya pemantapan tanah yakni ada bagian yang terbentuk dari endapan lengkungan pasir-pasir halus yang kemudian mengeras.

Penyebab alami penurunan muka tanah mungkin juga hal yang sulit dicegah. Namun soal pengambilan air tanah besar-besaran, sebenarnya sangat mungkin bisa dicegah. Bahkan mungkin hanya butuh beberapa tandatangan saja, hal itu bisa dihentikan.

Tentunya dengan mempertimbangkan berbagai aspek, utamanya sosial dan ekonomi. Namun pastinya, jangan sampai banyaknya pertimbangan itu malah bikin tak ada hal yang diputuskan.

Pada pemberitaan di halaman 2 Tribun Jateng, Selasa (21/6) lalu, ada warga yang menyatakan bila ia bebera kali melihat pengambilan air tanah bahkan pengeboran di wilayah pesisir.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi berjanji akan terus terus berkoordinasi dengan PDAM untuk mensosialisasikan penggunaan air PDAM dan meninggalkan pengambilan air tanah secara langsung.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved