Fokus

Fokus: Jangan Menyulitkan

ah, hal itu diungkapkan tetangga saya terkait dengan rencana pemerintah menerapkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk pebelian minyak goreng cur

Penulis: arief novianto | Editor: m nur huda
tribun jateng
arief novianto, wartawan tribun jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng Arief Novianto

TRIBUNJATENG.COM - "Jarene mengko nek tuku minyak goreng curah kudu nganggo aplikasi PeduliLindungi. Payah iki, simbokku ora iso tuku noh, lha ora ngerti aplikasi nang HP (Katanya nanti kalau beli minyak goreng curah harus pakai aplikasi PeduliLindungi. Payah kalau begini, ibu saya tidak bisa beli dong, soalnya tidak tahu aplikasi di HP-Red)," kata satu tetangga saya, dalam diskusi ngalor-ngidul di pos ronda kampung, kemarin malam.

Yah, hal itu diungkapkan tetangga saya terkait dengan rencana pemerintah menerapkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk pebelian minyak goreng curah, di mana saat ini masih dalam tahap sosialisasi.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, pemerintah melakukan sosialisasi kebijakan itu mulai Senin (27/6). Sosialisasi bakal dilakukan selama 2 pekan.

Dalam penerapannya, masyarakat bisa langsung datang ke toko pengecer yang menjual minyak goreng curah rakyat. Lalu, buka aplikasi PeduliLindungi untuk melakukan transaksi. Masyarakat bisa langsung scan QR code yang ada di pengecer. Setelah itu, perlihatkan hasil scan QR code yang ada di aplikasi PeduliLindungi.

Menanggapi hal itu, nyaris sama dengan tetangga saya, pedagang di Pasar Bandarjo Ungaran, Kabupaten Semarang, Tiara berujar, kebijakan itu berpotensi menyulitkan. “Nah itu nanti (penggunaan aplikasi-Red) takutnya pada kurang paham, khususnya yang sudah sepuh usianya, karena kesulitan menggunakan ponsel zaman sekarang,” katanya, kepada Tribun Jateng, Senin (27/6).

Senada, pedagang di Pasar Manis Purwokerto, Yusuf menyatakan, pembeli minyak goreng seperti nenek-nenek pasti tidak biasa menggunakan aplikasi PeduliLindungi. "Pasti akan kesulitan," tukasnya.
Pedagang lain di pasar itu, Tohirin juga mengaku keberatan dengan kebijakan itu, karena dinilai akan menyulitkan dalam bertransaksi. "Tidak usahlah dibuat ribet seperti itu, susah pedagang. Saya kira akan menyusahkan para pembeli juga," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng, Arif Sambodo menyatakan, saat ini sosialisasi pebelian minyak goreng curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi belum dilakukan di Jateng.

Menurut dia, pihaknya masih menunggu Surat Edaran (SE) resmi dari pemerintah pusat terkait dengan teknis dan regulasinya. "(Soal penggunaan aplikasi untuk membeli minyak goreng curah-Red) PeduliLindungi belum ada surat edarannya, belum ada petunjuknya. Jadi masih beli seperti biasa," katanya, dihubungi Tribun Jateng, Senin (27/6).

Tampaknya, pemerintah terus berupaya menyelesaikan kegaduhan soal harga dan ketersediaan minyak goreng yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, dengan sejumlah kebijakan yang berubah-ubah. Namun, kebijakan kali ini paling mengundang tanda tanya.

Saat pandemi lalu pun, penggunaan PeduliLindungi tidak pernah dipublikasikan atau terbukti efektivitasnya, bahkan seringkali terdengar banyaknya pelanggaran tanpa ada tindak lanjut, dan cenderung banyak dinilai hanya mempersulit. Kini, hal serupa diterapkan untuk pembelian minyak goreng.

Mungkin pemerintah menginginkan pendataan yang baik mengenai distribusi minyak goreng sampai pada konsumen akhir lewat kebijakan itu. Hanya saja, jangan sampai kebijakan itu justru kontra produktif, sehingga membuat masyarakat malah kesulitan mendapatkan komoditas itu. (*TRIBUN JATENG CETAK)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved