Marnang Haryoto: Industri Pengolahan Limbah di Jawa Tengah Masih Potensial

Marnang Haryoto berujar potensi pengolahan limbah di Jawa Tengah masih cukup besar.

Penulis: hermawan Endra | Editor: Daniel Ari Purnomo
istimewa
Perusahaan pengolah limbah, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) membuka kantor representatif di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang, Kamis (30/6).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Potensi pengolahan limbah di Jawa Tengah masih cukup besar. Hal itu disampaikan Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Marnang Haryoto saat acara Ngopling (Ngobrol Peduli Lingkungan) yang digelar Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan Indonesia (AJPLI), di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/6).

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, dari 7 kawasan industri yang ada di Jawa Tengah tercatat limbah B3 yang dihasilkan sebanyak 616 ribu ton per tahun untuk limbah manufaktur, 55 ribu ton limbah agroindustri, limbah pertambangan energy 959 ribu ton, 354 ribu ton limbah jasa, limbah jasa sebanyak 354 ribu ton, dan limbah fasyankes sebanyak 1.000 ton.

"Kemudian dari jumlah usaha kegiatan di sektor manufaktur ada 254 usaha, agroindustri 156 usaha, kemudian dari pertambangan energi ada 56, prasarana 504 usaha, sektor jasa 71 usaha, dari fasyankes 77 usaha. Jadi total kurang lebih ada 1.118 usaha. Itulah potensi yang harus dikelola limbah B3 nya," kata Marnang Haryoto.

Dikatakannya, saat ini ada sebanyak 5 perusahaan pengolah limbah B3 di Jawa Tengah. Bersamaan dengan itu semakin banyak perusahaan yang masuk ke Jawa Tengah, seperti ke Brebes, Jepara, Boyolali, dan lainnya. Ditambah lagi dengan meredanya pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan yang dulu berhenti kini kembali beroperasi sehingga dengan begitu otomatis akan menambah jumlah limbah.

Ia mengungkapkan, sampai tahun ini, sudah ada sekitar 63 perusahaan yang diawasi dan 4 perusahaan yang ditindaklanjuti sanksi administrasi berkaitan dengan pengelolaan limbahnya.

Melihat peluang dari potensi tersebut, Perusahaan pengolah limbah, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) tertekad memperkuat pasar di Jawa Tengah dengan membuka kantor representatif di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang.

“Potensi pengolah limbah di Jawa Tengah, khususnya di Semarang ini cukup besar, kami masuk ke sini itu untuk meningkatkan market share di Jawa Tengah. Dengan adanya kantor perwakilan di Semarang ini diharapkan bisa double peningkatannya,” ujar General Manager PPLI, Yurnalisdel.

Dijelaskannya, selama ini sudah ada sebanyak 30 perusahaan di Jawa Tengah yang pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sudah ditangani PPLI. Dimana pengolahan limbah tersebut dilakukan di Cileungsi.

“Selama ini limbah dari sini kita bawa ke Cileungsi, kedepan bisa juga kita olah di Lamongan,” tegasnya.

Seperti diketahui, limbah tidak hanya dihasilkan oleh rumah tangga atau perorangan, tapi juga dari industri. Tak jarang, industri menghasilkan limbah dari hasil sisa usaha berupa bahan berbahaya dan beracun atau dikenal sebagai limbah B3.

Menurut Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, pengategorian limbah B3 dilihat dari sifat, konsentrasi kandungan bahan, serta jumlahnya.
 
Pertumbuhan industri yang pesat berimbas pada jumlah limbah, termasuk jenis limbah B3 yang dihasilkan. Karena berbahaya dan beracun, pengelolaan limbah B3 perlu melewati serangkaian proses, mulai dari tata cara penyimpanannya, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, hingga penimbunan.

“Penanganan limbah industri yang tergolong dalam kategori bahan berbahaya dan beracun (B3) memang memerlukan pemahaman yang sama antara penghasil limbah, pelaku industri, dan regulator. Dari sisi industri, perusahaan pengolah limbah harus memiliki komitmen yang kuat dalam melakukan pengolahan secara benar dan tidak mencemari lingkungan,” terangnya.

Agar hal tersebut berjalan baik, Yurnalisdel mendorong regulator memperketat pengawasan dan enforcement kepada industri pengolah limbah. 


“Tujuannya agar industri benar-benar mengelola limbahnya secara baik,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved