Mendag Sebut Tren Harga Bahan Pokok Turun

harga bahan pokok penting (bapokting) disebut sudah mengalami tren penurunan.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan, harga bahan pokok penting (bapokting) mengalami tren penurunan.

Hal itu disampakan saat peluncuran Minyakita di kantor Kemendag, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (6/7).

"Pertama kali saya jadi menteri 3 minggu lalu, daging itu harga Rp 150 ribu per kilogram, kemarin di Pasar Kramat Jati sudah Rp 130 ribu per kilogram," tutur pria yang akrab disapa Zulhas itu.

Menurut dia, penurunan harga itu belum maksimal, karena masih terbilang tinggi berdasarkan harga rata-rata nasional. Mendag juga menyebut, komoditas telur ayam sudah turun cukup signifikan.

"Waktu saya pertama kali turun ke Pasar Cibubur, telur itu pedagang bilang harganya Rp 30 ribu per kilogram, sekarang sudah Rp 27 ribu per kilogram," tuturnya.

Pun begitu, harga daging ayam ras berangsur-angsur sudah turun. Zulhas menyebut, satu ekor ayam saat ini sudah dibanderol Rp 45 ribu, dari sebelumnya Rp 52 ribu per ekor. "Jadi saya bisa sampaikan harga-harga menjelang Iduladha ada yang naik sih, tetapi tidak banyak," ujarnya.

Zulhas menilai, kenaikan harga kebutuhan bahan pokok hal yang wajar karena momentum libur hari raya. Namun secara nasional berdasarkan harga komoditas umumnya stabil.

Dalam rilis Kemendag, harga cabai, telur ayam ras, dan bawang merah mengalami kenaikan. "Untuk beras dan gula relatif lebih stabil," tukas Ketua Umum PAN itu.

Adapun, Kemendag membangun sinergitas dengan Kementerian Pertanian untuk mendorong petani menanam cabai hidroponik.

Mendag Zulhas menerangkan penanaman cabai hidroponik dilakukan dengan mekanisme pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Saya waktu baru menjabat sehari dua hari langsung menemui Menteri Pertanian dan sekarang dikembangkan tanaman hidroponik karena Kementerian Pertanian ambil KUR-nya banyak sudah Rp76 triliun," jelasnya.

Zulhas menambahkan bahkan Kementerian Pertanian tahun depan akan menambah anggaran KUR mencapai Rp 90 triliun.

Ia meyakini, penanaman cabai hidroponik ini akan meningkatkan angka produksi. "Kalau cabai pakai sistem hidroponik ini kan otomatis tidak perlu musim lagi, kapan saja bisa," katanya.

Zulhas mengaku tidak bisa menyalahkan petani karena panen raya ditentukan oleh alam. Ia pun bercerita pertemuannya dengan perwakilan Kanada dan Australia bahwa petani cabai di kedua negara itu juga mengalami gagal panen.

"Jadi bisa dibayangkan negara maju juga tidak selalu berhasil panen, memang ada juga musim tertentu yang panen itu bisa gagal," tukas Zulhas.

Dia menambahkan di dalam negeri harga cabai rawit relatif terkendali, dari Rp 130 ribu/kg sudah menjadi Rp 110 ribu/kg, sedangkan cabai keriting sudah turun ke level Rp 90 ribu/kg.  (Tribun Network/Reynas Abdila)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved