Berita Kudus

Menengok Petilasan Mbah Modo di Lereng Gunung Muria, Dipercaya Jadi Tempat Gadjah Mada Asingkan Diri

Di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus dipercaya warga sekitar sebagai tempat Mahapatih Gajah Mada mengasingkan diri

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: Catur waskito Edy

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus dipercaya warga sekitar sebagai tempat Mahapatih Gajah Mada mengasingkan diri.

Tempat itu kini telah dimonumentalkan dalam sebuah bangunan yang dipercaya sebagai petilasan tokoh era Kerajaan Majapahit. 

Bangunan yang dipercaya sebagai petilasan Gajah Mada itu memiliki corak warna kuning.

Petilasan itu tepat berada di dalam bangunan tersebut. Hanya ada tembok yang memisahkan antara petilasan dengan ruang depan yang terbuka. 

Di depan bangunan itu terdapat gapura yang terbuat dari bata merah. Kemudian di halaman bangunan terdapat patung Gajah Mada berdiri lengkap dengan prasasti bertuliskan sumpah palapa di bawahnya.

Bupati Kudus HM Hartopo berkesempatan meresmikan petilasan tersebut pada Jumat (8/7/2022). 

Sedianya petilasan di Desa Rahtawu jumlahnya ada banyak. Petilasan yang dipercaya sebagai tempat Gajah Mada mengasingkan diri ini merupakan satu di antara 60-an petilasan yang lainnya yang ada di desa tersebut. 

Lelaki paruh baya yang diangkat sebagai tetua adat di desa itu, Saidi, mengatakan warga sekitar percaya Gajah Mada mengasingkan diri setelah tidak menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit.

Di Dukuh Semlirolah tempat mengasingkannya. Warga menyebutnya sebagai Mbah Modo. Penyebutan ini, katanya, karena lebih mudah diucapkan oleh lisan dibanding menyebutnya Gajah Mada. 

“Pengaruhnya, tempat ini tempat yang disakralkan oleh warga Semliro. (Warga Semliro) kalau punya hajat pasti mohon izin atau mohon doa dari Tuhan yang mahaesa melalui yang ada di sini (petilasan). Kemudian ada juga pendatang dari daerah lain dari Solo, Semarang, Yogya melakukan ritual,” kata dia. 

Sementara Kepala Desa Rahtawu, Didik Aryadi, mengatakan jika warganya masih memegang erat tradisi turun temurun.

Tradisi itu termasuk tidak boleh menggelar pentas wayang di Rahtawu. Warganya juga masih menganggap keramat sejumlah petilasan yang ada di desa tersebut. Alhasil, dalam beberapa kesempatan warga di desa itu acap kali melakukan ritual di petilasan yang ada di sana. 

“Banyak kejadian yang tidak masuk akal. Ada yang lupa ritual sedekahan, genting separuh masyarakat Semliro disapu angin,” kata dia. 

Kemudian untuk peresmian yang pihaknya lakukan di petilasan Mbah Modo itu bagian dari upaya mengenalkan destinasi wisata spiritual dan budaya yang ada di desanya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved