4.500 Ibu Hamil di Sragen Beresiko Tinggi, Kebanyakan Pasangan Muda

Dari 14.000, sebanyak 4.500 ibu hamil di Sragen beresiko tinggi (resti) kehamilan. Artinya 30 persen ibu hamil di Sragen resti.

YOUTUBE
Ilustrasi Ibu Hamil Mual 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Dari 14.000, sebanyak 4.500 ibu hamil di Sragen beresiko tinggi (resti) kehamilan. Artinya 30 persen ibu hamil di Sragen resti.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto menyampaikan guna memperkecil terjadinya resti pihaknya melakukan sejumlah upaya salah satunya melalui para kader di desa.

"Bentuk perhatian kita dari bawah ada kader kesehatan, kita latih para kader resti untuk mengedukasi pasien hamil untuk periksa ke bidan ataupun periksa ke dokter ahli," katanya.

Selain itu, pihaknya juga telah membuat group whatsapp dan bina wilayah. Bina wilayah ini dilakukan para dokter-dokter spesialis obgyn untuk masuk ke wilayah-wilayah.

Ketua IBI Sragen, E Tyas Damai menambahkan pihaknya berupaya untuk mengurangi ibu hamil yang beresiko tinggi bahkan mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi.

Damai sapaan akrabnya itu mengaku saat ini yang terpenting ialah kolaborasi dengan siapapun baik keluarga dan juga suami yang harus mendukung ibu hamil.

Angka kematian ibu dan bayi lebih banyak karena keteledoran pasien atau kurang kooperatif dengan bidan.

Selain itu, ia mengatakan ibu resti saat ini, paling banyak pasangan muda. Dari hasil pengamatannya banyak pasangan muda sangat susah mengatur pola makan.

"Saat-saat ini pasangan muda terutama sangat susah sekali untuk mengatur pola makan. Sebenarnya mereka sudah rajin periksa namun tidak mengatur pola makan dan menjaga kehamilannya," kata Damai.

Dia melanjutkan ketika melakukan pemeriksaan dan ditemukan sesuatu hal yang resiko, pasangan muda cenderung kurang memperhatikan.

"Pasien juga kadang ada yang mempunyai keyakinan bahwa dengan salah satu bidan bahwa bisa melahirkan normal dan cukup padahal tidak bisa, jika ada resiko tentu harus dirujuk ke faskes yang lebih tinggi," katanya.

Terkait pemeriksaan setiap ibu hamil, harus minimal enam kali periksa di bidan dan bertemu dokter spesialis satu kali.

"Untuk pelayanan para bidan kedepannya tentu selalu semangat maju bersinergi dengan pemerintah kemudian selalu luwes yaitu lembut ulet wibawa energik dan sopan," tandasnya. (uti)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved