BI Fast Catatkan 700.000 Transaksi/hari

sejak diluncurkan pada Desember 2021, sistem pembayaran digital itu semakin diminati masyarakat.

Editor: Vito
KONTAN/Fransiskus Simbolon
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo 

BADUNG, TRIBUN - Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah transaksi BI Fast kini mencapai 700.000 transaksi tiap harinya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, sejak diluncurkan pada Desember 2021, sistem pembayaran digital itu semakin diminati masyarakat.

Pasalnya, BI Fast hanya mengenakan biaya transfer lebih murah, yakni Rp 2.500 per transaksi, dibandingkan dengan biaya transfer yang dikenakan perbankan sebesar Rp 6.500 per transaksi.

"BI Fast payment sejak kami luncurkan di Desember sekarang setiap harinya 700.000 transaksi retail, dengan biaya hanya Rp 2.500," ujarnya, dalam acara G20 Advancing Digital Economy and Finance, di Bali, Kamis (14/7).

Diketahui, sejak Desember 2021 hingga 29 Mei 2022, frekuensi transaksi BI Fast mencapai 85,3 juta, dengan nilai transaksinya Rp 320,6 triliun.

Ditargetkan nominal transaksi melalui BI-Fast dapat mencapai Rp 811 triliun, ditopang oleh berbagai upaya perluasan.

Dikutip dari Kontan.co.id, hingga Juni 2022, jumlah peserta BI Fast mencapai 52 peserta, di mana 51 merupakan bank umum dan unit usaha syariah (UUS).

Satu lagi adalah Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, ada lima bank yang sudah jadi peserta sekaligus dengan UUS-nya. Artinya, baru ada total 46 bank yang masuk jadi peserta BI Fast.

Sementara berdasarkan Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total bank umum per Maret 2022 mencapai 107 bank.

Dengan demikian, masih ada 61 bank lagi yang belum bisa menyediakan layanan transfer BI Fast kepada nasabahnya. "(Biaya transfer BI Fast) sangat sangat murah dan menjadi lebih populer," ujar Perry.

BI terus mendorong kemudahan penggunaan sistem pembayaran digital melalui berbagai instrumen, seperti BI Fast, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), dan local currency settlement (LCS).

Bahkan, pada November 2022, BI akan bekerja sama dengan bank sentral dari empat negara Asia, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina, untuk menginsiasi pembayaran lintas negara (cross border payment).

Kerja sama itupun diharapkan dapat diperluas hingga ke level global. "Ini ambisi, ini adalah visi, tetapi kami memiliki komitmen yang kuat untuk bekerja sama," tutur Perry. (Kompas.com/Isna Rifka Sri Rahayu)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved