Sri Mulyani: Krisis Pangan Dunia Bisa Berlangsung Lama

Ketahanan pangan dapat terganggu akibat krisis pupuk saat ini. Sehingga, krisis pangan diperkirakan berlangsung bahkan hingga beberapa tahun ke depan.

Editor: Vito
Kompas.com/Istimewa
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu (21/11/2020).(BPMI Setpres) 

TRIBUNJATENG.COM, BADUNG - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut, krisis pangan yang melanda secara global pada saat ini dapat berlangsung dalam waktu lama dan mengancam perekonomian dunia.

"Pandemi covid-19 yang belum selesai dan perang yang berlangsung di Ukraina, memungkinkan akan memperburuk ketahanan pangan akut 2022 yang sudah parah," ujarnya, dalam High Level Seminar G20 Indonesia: Strengthening Global Collaboration for Tackling Food Insecurity, di Bali, Jumat (15/7).

Menurut dia, ketahanan pangan negara-negara dapat terganggu dengan adanya krisis pupuk yang terjadi pada saat ini.

Sehingga, krisis pangan diperkirakan masih berlangsung hingga tahun depan, dan bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

"Krisis pupuk yang mengancam juga berpotensi memperburuk krisis pangan hingga 2023. Ada urgensi di mana krisis pangan ini harus ditangani secara bersama," ujarnya.

Sri Mulyani mengajak seluruh negara di G20 untuk menyiapkan pembiayaan untuk memperkuat stabilitas sosial, dan juga melakukan antisipasi krisis pangan.

"Pengerahan semua mekanisme pembiayaan yang tersedia segera diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat stabilitas keuangan serta sosial," tuturnya.

Selain itu, Menkeu menyatakan, krisis energi menjadi satu tantangan yang mengancam proses pemulihan ekonomi global, dengan terjadinya lonjakan harga komoditas itu akibat perang Rusia dan Ukraina yang masih terus berlangsung

"Harga komoditas energi meroket. Saya yakin anda semua sebagai menteri keuangan, serta gubernur bank sentral melihat ini sebagai ancaman bagi stabilitas makroekonomi kita, serta lingkungan yang kondusif bagi kita untuk mempertahankan pemulihan," jelasnya.

Ia menekankan, kondisi kelangkaan bahan bakar sedang berlangsung di seluruh dunia. Kondisi krisis energi itu juga telah berimplikasi besar pada politik dan sosial, seperti yang terjadi di Sri Lanka, Ghana, Peru, Ekuador, dan berbagai negara lainnya.

"Jadi ini benar-benar masalah yang mengancam pemulihan kita. Dunia berada di tengah krisis energi global. Perang serta kenaikan harga komoditas dapat memperburuk lonjakan inflasi global dan meningkatkan ketidakstabilan sosial lebih lanjut," ungkap Sri Mulyani(Tribunnews/Kompas.com)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved