Wawancara Khusus
Kisah Sukses Pengusaha Ayam Bakar Wong Solo, Dulu hanya Masak 3 Ekor dan Kini Punya 270 Cabang
Mulai jualan kecil-kecilan 3 ekor ayam, lama-lama menjadi besar usahanya dan kini sudah ada lebih dari 270 store (rumah makan) di Indonesia
Penulis: ahmad mustakim | Editor: rustam aji
TRIBUNJATENG.COM - SUDAH banyak orang mengenal bahkan sering menikmati menu-menu di Ayam Bakar Wong Solo. Pria asli Solo ini pertama kali memulai bisnis ayam bakar di Medan.
Mulai jualan kecil-kecilan 3 ekor ayam, lama-lama menjadi besar usahanya dan kini sudah ada lebih dari 270 store (rumah makan) di Indonesia. Bahkan di Arab Saudi ada 3 store, Malaysia 12 store, Ayam Bakar Wong Solo.
Kisah selanjutnya simak di video media sosial Tribunjateng dan berita online Tribunjateng.com. Berikut petikan wawancaranya.
Bisa cerita awal mulai usaha Pak?
Dulu tahun 1991 saya buka di Medan Sumatera Utara. Pada waktu itu saya masih menjadi guru. Tapi saya nggak memiliki bakat di situ.
Saya merasa bakat saya ya jualan, masak. Karena dari kecil suka jualan ikut orang tua. Bagi saya ini sudah panggilan jiwa, bukan saya nggak suka guru, saya lebih cocok jualan dan masak.
Jualan di Medan?
Iya saya awali jualan 3 ekor ayam. Istri anak anggota TNI, tetap suka jadi guru atau dosen. Kalau saya nekat berjualan.
Di Medan banyak orang Solo. Tetangga ada 20an orang. Ada sekitar 60an persen orang Jawa di sana.
Kenapa namanya Wong Solo?
Saya kan asli Solo. Ingin masyarakat Sumatera tahu ada masakan Jawa dari Solo. Di sana kan banyak Arema, Surabaya, agar beda sama Medan.
Kebetulan Mbah saya namanya Wongso. Lalo orang mudah menyebutnya Wongso Lo, Wongso Lo. Jadilah Wong Solo.
Siapa yang mengerjakan itu semua?
Saya kerja sendiri dari mulai belanja, masak, sampai jualan. Saya jualan tetap profesional, dan cita rasanya. Saya juga pegang nilai agama saya, saya jalani perintah Allah.
Saya kira ini harus sejajar. Salat lima waktu, sedekah dan sebagainya.
Waktu itu kita ambil 10 persen. Dapat kita ambil 10 persen. Tak kasih kotak kongguan. Setelah 4 bulan terkumpul kita salurkan kepada orang yang membutuhkan. Sedikit demi sedikit ini meningkat.
Ada kabar The Power Of Media?
Kemudian mulai rame saya dibantu teman namanya Ida. Satu bulan kerja mau pinjam uang itu, Rp 700 ribu, sedangkan uang saya di BRI baru terkumpul Rp 1.500.000.
Akhirnya saya bantu. Sebelumnya bertanya istri. Dia memiliki saudara wartawan, ia datang ngobrol-ngobrol diwawancarai saya nggak tahu.
Kemudian beritanya tayang, tapi saya wong bodo nggak tahu kalau itu promosi dan sebagainya. Itu koran nomor satu di Sumatera tahun tersebut. Itu yang paling berkesan.
Paginya saya masih jualan 10 ekor ayam, hanya dua jam habis terus pulang. Jam 10 jualan sampai jam satu siang habis tiap hari gitu.
Setelah terbit di koran, warung saya ramai dikerubungi orang. Orang mengira itu ada kecelakaan kenapa kok ramai. Ternyata beli ayam bakar. Orang-orang pada nyari saya.
Antre banyak orang?
Iya mereka menunggu dan sabar. Bertanya-tanya mana ayamnya. Saya masak, langsung habis. Dan masih banyak yang nunggu karena belum kebagian.
Saya langsung beli 50 ekor, kemudian orang-orang kampung saya panggil untuk bantuin saya. Rekrutmen satu jam. Kemudian ibu masak nasi saya masak ayam.
Pernah sampai malam habis 350 ekor ayam. Terus masuk koran lagi. Dan hingga kini terus makin populer.
Selama pandemi bagaimana Pak?
Kita konsisten dengan perintah ajaran agama, agar fokus dan bersinergi dalam menekuni pilihannya. Pilihan saya bisnis ya jualan, itu saya tekuni, saya cintai.
Kenapa memilih ayam bakar Pak?
Keluarga saya dari dulu suka ayam. Dulu di Solo terkenal Ayam Madukara. Bapak saya termasuk pendiri pertama. Yang setor ayam juga bapak saya, itu tahun 1974. Mbah saya itu salah satu pendiri sate kere. Di depan hotel Alila Solo ibu saya jualan ayam.
Varian menunya apa saja?
Spesial ayam. Layaknya warung makan. Ya ada variatifnya. Ada makan tradisional Indonesia juga. Mulai gado-gado, sayur asem, tumis kangkung, dan sebagainya. Ikan-ikan, seafood. Oriental juga akhirnya ada. Menyesuailan dengan selera masyarakat.
Apa rahasianya hingga orang ketagihan?
Bedanya, saya nggak belajar, itu bedanya. Kalau boleh sombong sedikit. Itu cara masak ayam mulai penyet, bakar itu niru saya.
Bumbunya, sambal bawangnya, jadi masakan se Indonesia hampir mirip semua. Untuk masakan semua harus memliki ciri khasnya masing-masing. Harus ada inovasinya. Semuanya harus top dari ayam, sambal dan lainnya.
Sekarang ada berapa store di Indonesia?
Ada 270 an store lah. Di Arab Saudi ada 3, Malaysia ada 12, Singapura sempat ada tapi tidak lanjut. Di Arab Saudi melayani jemaah haji dan umrah.
Ada kendala apa saja Pak?
Lebih ke fluktuasi bahan baku ya, sering naik turun. Beda dengan Malaysia dan Arab. Ayam di sana dimonopoli oleh pemerintah.
Harga ayam 6 real tetap, 5 ringgit ya tetap segitu. Termasuk mempengaruhi bahan baku lainnya. Keuntungan bisa 10 persen karena fluktuatifnya bahan baku.
Bagaimana solusi jika bahan naik?
Kita harus menghemat. Investasi lebih rendah. Sekarang kita mulai orientasi pengembangan ke pinggiran. Misal di luar pun nggak harus di jalan protokol, mahal.
Menyediakan juga makanan instan?
Maka kemudian kita berpikir membuat makanan instan yang awet. Cari inspirasi ke Cina, Korea dan Jepang. Akhirnya menemukan itu.
Namanya Retot, pemanasan yang panjang, hingga tahan lebih dari dua tahun. Rasanya tetap, Cita Rasa tak berubah. Bisa tahan hingga 2 tahun.
Dan itulah Makanku. Hanya 15 menit tahan hingga dua tahun.
Apa saja produknya?
Produknya kita macam-macam ada sambel, sayur, lauk, bandeng, nasi ayam.
Karena ini teknologi besar maka tidak bisa bersaing dengan rumah makan di lingkungan. Segmen untuk haji umroh.
Untuk backpakeran, muncak, untuk kegiatan sosial. Misal gempa taunami, dan sebagainya. (kim)