Fokus
Fokus: Di Bawah Bayangan Covid
Secara kasat mata, sudah bisa dikatakan Covid atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona sudah tak lagi menakutkan seperti yang terjadi dua tahun
Penulis: Erwin Ardian | Editor: m nur huda
Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian
TRIBUNJATENG.COM - Secara kasat mata, sudah bisa dikatakan Covid atau penyakit yang disebabkan oleh virus Corona sudah tak lagi menakutkan seperti yang terjadi dua tahun terakhir, dan puncaknya pertengahan 2021. Hampir semua sendi kehidupan kini sudah berjalan normal.
Kita sudah bisa bekerja seperti biasa, anak-anak masuk sekolah sama seperti ketika pandemi belum terjadi, semua pusat keramaian seperti tempat wisata dan tempat umum lainnya mulai dipadati pengunjung, bahkan konser musik sudah beberapa kali digelar.
Semua indikator pertumbuhan ekonomi mulai pulih dan mengalami kenaikan, dan harapan untuk kembali hidup normal pun muncul. Namun sepertinya masa merayakan kemerdekaan dari covid masih harus tertunda.
Kekhawatiran kembalinya masa-masa yang sangat berat rupanya masih ada. Kita belum sepenuhnya terbebas dari bayang-bayang pandemi covid yang sudah hampir tiga tahun ini membelenggu segala sisi kehidupan.
Presiden RI Joko Widodo sempat mengumumkan kita bisa melepas masker jika berada di luar ruangan dan tidak di tengah keramaian. Namun belakangan pernyataan itu diralat, kita harus tetap memakai masker di dalam maupun di luar ruangan jika ingin tetap sehat.
Kabar mengkhawatirkan itu datang ketika subvarian baru SARS-CoV-2 kembali muncul di Indonesia. Setelah guncangan varian Delta yang memakan banyak korban pertengahan tahun lalu, kali ini giliran subvarian baru Omicron dengan kode BA.2.75 ditemukan di Bali dan Jakarta.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengabarkan kedatangan varian baru itu di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, (18/7). Menurut Budi, varian itu awalnya beredar di India dan sudah masuk ke 15 negara, sekarang juga sudah masuk di Indonesia. Subvarian yang ditemukan di Bali satu kasus dan di Jakarta dua kasus ini berasal dari transmisi luar negeri dan transmisi lokal.
Kabar baiknya adalah orang yang terpapar subvarian Covid-19 hanya mengalami gejala ringan. Varian ini sangat mirip dengan karakter varian Omicron, sehingga tingkat hunian rumah sakit juga tidak terlalu besar.
Pemerintah juga mengingatkan beberapa varian baru yang masuk ternyata terbukti bisa menembus benteng vaksin. Kondisi ini membuat kemungkinan masyarakat untuk terinfeksi Covid 19 lebih tinggi meskipun telah mendapatkan vaksinasi.
Satu-satunya harapan untuk menambah benteng kekebalan tubuh menghadapi beberapa varian baru ini, pemerintah menyarankan masyarakat untuk mendapatkan vaksin booster atau vaksin tahap tiga.
Pemerintah beranggapan Booster ampuh menurunkan tingkat fatalitas paparan Covid 19 dibandingkan yang baru mendapatkan satu atau dua kali vaksin.
Data terakhir dan peringatan pemerintah ini membuktikan kita masih hidup dalam bayangan Covid. Meski kehidupan seolah sudah berjalan normal, potensi untuk kembali ke masa-masa berbahaya dimana gelombang Covid cukup besar hingga pemerintah kewalahan, masih bisa terjadi.
Kita tentu masih ingat bagaimana ketika hampir semua rumah sakit penuh dan peralatan untuk penanganan pasien Covid sempat habis ketika lonjakan pasien cukup tinggi pada pertengahan tahun 2021 lalu. Jika tak ingin hal seperti itu terjadi, satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah mengikuti saran pemerintah dan para ahli untuk terus menaati protokol kesehatan. Bagi yang belum, inilah saatnya mendapatkan vaksinasi lengkap sesuai anjuran. (*/TRIBUN JATENG CETAK)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/erwin-ardiansyah_20170822_072731.jpg)