Cerita 25 Nabi untuk Anak Kisah Lahirnya Nabi Ibrahim AS
Inilah cerita 25 nabi untuk anak, cerita bayi Nabi Ibrahim AS yang ditinggal di hutan.
Penulis: non | Editor: galih permadi
Cerita 25 Nabi untuk Anak Kisah Lahirnya Nabi Ibrahim AS
TRIBUNJATENG.COM - Inilah cerita 25 nabi untuk anak, cerita bayi Nabi Ibrahim AS yang ditinggal di hutan.
Nabi Ibrahim dilahirkan di negeri yang makmur.
Negeri itu bernama Babilonia.
Dalam peta sekarang, negeri Babilonia masuk dalam wilayah Irak selatan.
Raja yang memerintah negeri Babilonia saat itu adalah Raja Namrud.
Ia mempunyai orang-orang kepercayaan yang sangat cakap di berbagai bidang.
Tak mengherankan jika kemudian Babilonia menjadi makmur dan sejahtera dengan cepat.
Babilonia seolah-olah menjadi pusat dunia saat itu.
Bagaimana tidak? Babilonia memiliki gedung-gedung megah yang menjulang tinggi, saluran air yang bersih, dan kuil-kuil yang indah.
Kerajaan Babilonia juga mempunyai prajurit yang sangat banyak jumlahnya, dilengkapi dengan persenjataan yang canggih.
Bahkan Babilonia juga mempunyai orang-orang sakti.
Mereka selalu memberitahukan ancaman bahaya kepada Raja Namrud jauh hari sebelum bahaya itu datang.
Suatu ketika, dukun sakti istana menafsirkan mimpi Raja Namrud.
Dukun sakti itu mengatakan bahwa akan Iahir seorang laki-laki yang kelak mampu menghancurkan kekuasaan Raja Namrud.
Raja Namrud pun segera mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, bahwa setiap bayi laki-laki yang lahir pada tahun itu akan disingkirkan.
“Tidaaak!” jerit seorang perempuan yang sedang hamil begitu mendengar pengumuman itu.
“Bagaimana ini? Waktu kelahiran bayi kita tak lama lagi,” ujarnya kepada suaminya, Azar.
“Tak perlu panik,” kata Azar, menenangkan istrinya. “Lagipula kita belum tahu, bayi kita laki-laki atau perempuan.”
Meskipun Azar sudah berusaha menenangkan, tapi istrinya itu tetap gelisah.
Dia merasa bahwa bayi yang dikandungnya itu adalah laki-laki.
“Tenanglah! Kalaupun nantinya bayi kita itu laki-laki, aku akan mencari cara,” kata Azar.
“Tak akan pernah kuserahkan bayi kita kepada Raja Namrud. Kita harus melindungi bayi kita, meski nyawa kita taruhannya.”
Hari kelahiran pun tiba. Ternyata firasat istri Azar benar.
Bayi yang dilahirkannya adalah bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu mereka beri nama Ibrahim.
“Cepat! Kita tak punya banyak waktu,” seru Azar kepada istrinya yang amat panik.
“Kita harus menyelamatkan bayi ini sebelum prajurit Namrud tahu.”
Dengan mengendap-endap, mereka berdua pergi ke hutan yang sepi.
Bayi Ibrahim yang terbungkus selimut tebal itu pun mereka Ietakkan di bawah sebuah pohon yang paling besar di hutan itu.
Istri Azar tak mampu membendung air matanya ketika hendak pulang.
Tak ada pilihan lain. ia harus meninggalkan bayinya sendirian agar bayinya selamat.
Sesekali Azar dan istrinya menoleh ke belakang dengan perasaan yang amat sedih.
Meskipun sangat mustahil, tapi mereka tetap berharap kelak ketika mereka datang lagi ke tempat itu, bayi tersebut masih hidup.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdoa memohon kepada Yang Mahakuasa untuk melindungi bayi mereka.
Setahun berlalu. Titah Raja Namrud untuk menyingkirkan setiap bayi laki-laki, sudah dihapuskan.
Kini tak ada lagi ancaman bahaya terhadap bayi laki-laki yang akan lahir. Azar dan istrinya yang mendengar hal itu langsung merasa gembira.
Mereka kemudian teringat dengan bayi mereka, Ibrahim, yang mereka tinggalkan seorang diri di hutan.
Muncul perasaan sedih dan khawatir akan nasib Ibrahim kecil. Istri Azar bertanya-tanya, apakah mungkin anaknya itu masih hidup.
“Ayo, kita harus ke hutan itu. Kita bawa pulang Ibrahim,” ucap Azar.
“Tapi, apakah dia masih bertahan hidup di sana?” tanya istri Azar, ragu.
“Aku tak tahu, tapi semoga dia masih hidup. Ayo kita berangkat! Jangan sampai terlambat.
Aku khawatir nanti ada binatang buas yang memangsanya,” seru bapak nabi Ibrahim Azar.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, pasangan suami istri itu pergi ke hutan tempat di mana dulu mereka meninggalkan Ibrahim sendirian.
Namun, rupanya tidak mudah mencari Ibrahim. Hutan telah banyak berubah.
Pepohonan yang dulu masih kecil, kini telah tumbuh tinggi dan membuat mereka bingung.
“Di mana dulu kita meletakkan bayi kita, ya?” gumam Azar sambil mencoba mengingat-ingat.
“Oh iya!” serunya tiba-tiba. “Di pohon yang paling besar itu! Aku ingat sekarang. Dulu, kita meninggalkan buah hati kita di sana.”
Istri Azar pun bergegas, mempercepat langkahnya ke pohon besar itu.
“Suamiku!” pekiknya penuh haru ketika sampai di pohon itu. Ia menangis bahagia. “Anak kita masih hidup!”
Istri Azar segera menggendong dan memeluk Ibrahim erat sekali. Ia menciumnya berkali-kali.
Pun demikian dengan Azar, suaminya. Sungguh, mereka tak percaya bahwa bayi yang dulu mereka tinggalkan sendirian di hutan masih hidup.
Azar dan istrinya lalu membawa Ibrahim pulang ke rumah dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Bayi Ibrahim memang diselamatkan oleh Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan Kami berikan kepadanya (Ibrahim) kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh.” (QS. An-Nahl [16]: 122). (*)