Berita Banyumas

Cowongan, Tradisi Memanggil Hujan Masyarakat Banyumas, Boneka Cowong Jadi Ciri Khas

Cowongan merupakan suatu tradisi memanggil hujan yang sudah ada sejak nenek moyang dan berkembang di wilayah Banyumas dan sekitarnya

Penulis: Imah Masitoh | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Imah Masitoh
Mbah Titut saat mempersembahkan puisi karyanya yang bertema Cowongan pada Peken Banyumasan Mrapat 7 di Taman Sari Kota Lama Banyumas, Sabtu (23/7/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Cowongan merupakan suatu tradisi memanggil hujan yang sudah ada sejak nenek moyang dan berkembang di wilayah Banyumas dan sekitarnya. 

Saat ritual Cowongan ini, salah satu hal yang menarik adalah sebuah boneka berwajah putih, digambarkan sebagai sosok perempuan. Boneka itu yang biasa disebut Cowong. 

Cowong sendiri, semacam boneka yang terbuat dari tempurung kelapa dan diberi baju dari jerami atau kain, didandani layaknya wanita sebagai perlambang perwujudan bidadari.

Mbah Titut saat mempersembahkan puisi karyanya yang bertema Cowongan pada Peken Banyumasan Mrapat 7 di Taman Sari Kota Lama Banyumas, Sabtu (23/7/2022).
Mbah Titut saat mempersembahkan puisi karyanya yang bertema Cowongan pada Peken Banyumasan Mrapat 7 di Taman Sari Kota Lama Banyumas, Sabtu (23/7/2022). (TribunJateng.com/Imah Masitoh)

Bagi orang yang baru melihatnya banyak mengira Cowong sama dengan Jelangkung. Sejatinya keduanya merupakan dua hal yang berbeda. 

Tradisi Cowongan ini ada, lahir dari kalangan petani pada dahulu kala sebagai media pemanggilan hujan saat musim kemarau tiba. Sementara Jelangkung yakni permainan tradisional untuk mengundang arwah. 

Tradisi Cowongan ini sering kali dibawakan oleh salah satu seniman Banyumas bernama Titut Edi Purwanto. Akrab disapa mbah Titut, ia sering menampilkan berbagai karyanya yang bertema Cowongan.

Baca juga: Pria Gowa Pelaku Penganiayaan terhadap Adik Kandung Ditangkap saat Sembunyi di Bawah Ranjang

Baca juga: Inilah Wajah Vera Simanjuntak Pacar Brigadir J, HP Disita Polisi Setelah Diperiksa

Menurutnya asal-usul nama Cowongan ini berasal dari batok yang dicowang-caweng. Cowang-caweng ada yang mengartikan dicorat-coret ada juga yang mengartikan digerakan sebagaimana mengambil air menggunakan batok. 

Batok sendiri sering digunakan masyarakat lokal Banyumas untuk mengambil air yang biasanya akan diberi pegangan dari bambu. 

Namun saat kemarau tiba batok yang biasa mengandung air sudah tidak ada airnya lagi. Hingga nenek moyang dahulu berupaya memberi informasi kepada penguasa langit. 

"Ini loh tempurung kelapa sudah tidak keluar airnya, bahkan batok dicowang-caweng agar bidadari yang sedang mandi di atas sana segera turun menurunkan air hujan," jelas Mbah Titut.

Mbah Titut saat mempersembahkan puisi karyanya yang bertema Cowongan pada Peken Banyumasan Mrapat 7 di Taman Sari Kota Lama Banyumas, Sabtu (23/7/2022).
Mbah Titut saat mempersembahkan puisi karyanya yang bertema Cowongan pada Peken Banyumasan Mrapat 7 di Taman Sari Kota Lama Banyumas, Sabtu (23/7/2022). (TribunJateng.com/Imah Masitoh)

Saat terjadi kemarau panjang nenek moyang juga akan mengarang doa karena dahulu belum ada doa yang diturunkan. Doa ini yang sekarang disebut dengan mantra. 

Dalam tradisi Cowongan ini memang terdapat mantra yang cukup panjang yang diucapkan oleh pawangnya. Mantra tersebut berisi doa-doa yang dipanjatkan kepada penguasa langit. 

"Ternyata mantra dan doa itu setelah saya tafsiri mengandung nilai kasih sayang antar sesama manusia,  manusia dengan alam, dan manusia dengan sang Pencipta. Sebuah nilai yang sangat indah dalam konteks kehidupan," ungkap mbah Titut. 

Mbah Titut juga sering mempersembahkan pertunjukkan karyanya yang didalamnya disematkan sepenggal mantra Cowongan, yang ditujukan untuk memberitahukan kepada generasi muda. 

Meski masih ada anggapan tradisi Cowongan ini mengandung kemusyrikan, namun sebenarnya didalamnya banyak nilai positif bila mau menelaahnya dengan jeli. 

Harapan besar dari Mbah Titut dari setiap persembahan yang ditujukannya dapat memberi tahu kepada generasi muda untuk mencintai budaya leluhurnya. 

"Karena leluhur itu sangat mulia segala sesuatu yang diciptakannya itu tujuannya satu ingin anak cucunya selamat. Leluhur bisa mati tapi jangan sampai karya-karyanya mati, dan kitalah pewaris tunggal dari karya leluhur," tuturnya. (ima) 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved