AS Siagakan Kapal Induk USS Ronald Reagan di Perairan Taiwan

armada penyerang kapal induk Ronald Reagan disiagakan untuk mencegah terjadinya serangan, dan memantau situasi panas antara China dengan Taiwan.

Editor: Vito
sentinelassam
ilustrasi - Armada serang Kapal Induk USS Ronald Reagan di Laut China Selatan. 

TRIBUNJATENG.COM, WASHINGTON DC - Ketegangan politik antara Beijing dan Taipei karena kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan, membuat Gedung Putih mengutus armada laut beserta kapal induk USS Ronald Reagan untuk berjaga di perairan Taiwan.

Langkah itu diambil AS setelah latihan militer China meluncurkan serangan rudal balistik jenis hipersonik Dongfeng DF-17 ke wilayah perairan Taiwan dan Jepang pada Kamis (4/8), tepatnya usai Nancy Pelosi melakukan kunjungan kerja dengan para pejabat Taipei.

AS menganggap tindakan itu merupakan reaksi berlebihan China atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

"China telah memilih untuk bereaksi berlebihan dan menggunakan kunjungan Pelosi sebagai dalih untuk meningkatkan aktivitas militer yang provokatif di dalam dan sekitar Selat Taiwan," ucap juru bicara Gedung Putih, John Kirby.

“Kami mengutuk tindakan ini, yang tidak bertanggung jawab dan bertentangan dengan tujuan lama kami untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan di kawasan itu," tambahnya.

Mengutip dari Anadolu Agency, sebelum berlabuh di perairan Laut China Selatan, armada USS Ronald Reagan diketahui tengah melakukan kunjungan pelabuhan ke Singapura sebagai bagian dari patroli rutin guna mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

Namun setelah ketegangan antara China dengan Beijing meningkat, menteri pertahanan AS, Lloyd Austin memerintahkan armada penyerang kapal induk Ronald Reagan untuk berlayar di pangkalan area umum, dengan maksud mencegah terjadinya serangan susulan, serta memantau situasi panas antara China dengan Taiwan.

“Kami tidak akan terhalang untuk beroperasi di laut dan langit Pasifik Barat sesuai dengan hukum internasional, seperti yang telah kami lakukan selama beberapa dekade, mendukung Taiwan dan mempertahankan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” tegas Kirby.

Sebagai informasi, USS Ronald Reagan merupakan kapal induk yang difungsikan sebagai pangkalan udara terapung bagi angkatan udara AS.

Dengan dilengkapi rudal Sea Sparrow serta sistem senjata jarak dekat (CIWS), kapal induk ini diklaim dapat dapat menghancurkan rudal jarak pendek hingga rudal anti-kapal supersonic milik musuh.

Uniknya, kapal ini menggunakan tenaga penggerak dua reaktor nuklir yang dapat menggerakkan empat baling-baling kapal selama lebih dari 20 tahun tanpa mengisi bahan bakar.

Belum diketahui sampai kapan USS Ronald Reagan akan bersiaga di Laut China Selatan. Namun, menurut Kirby, kapal induk ini akan terus berlayar di kawasan tersebut hingga militer China mundur dari kawasan selat Taiwan.

Dilansir dari Straits Times, Jumat (5/8), Kirby menyebut tindakan China sebagai bagian dari "krisis buatan", tetapi juga mengatakan bahwa Beijing berusaha mengubah keseimbangan kekuatan regional.

"Ini juga merupakan dalih untuk mencoba menaikkan taruhan, dan untuk benar-benar mencoba menetapkan status quo baru, untuk mencapai normal baru di mana mereka pikir mereka dapat mempertahankannya," kata Kirby.

“Ketegangan dapat turun dengan sangat mudah hanya dengan meminta China menghentikan latihan militer yang sangat agresif ini.” tambahnya. (Tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved