Berita Sukoharjo

Wujudkan Kemandirian Nasional dalam Penyediaan Bahan Baku Obat Herbal, BPOM Gandeng IEBA

Permintaan masyarakat terhadap herbal cukup tinggi, terlebih semenjak pandemi.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Permintaan masyarakat terhadap obat bahan alam (herbal) cukup tinggi.

Terlebih semenjak pandemi Covid 19, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan meningkat.  Ini memengaruhi permintaan ekstrak bahan alam yang melonjak. 

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengatakan, obat bahan alam berpotensi besar untuk dikembangkan, mengingat besarnya permintaan masyarakat terhadap produk tersebut. 

Penjualan jamu dan obat herbal nasional di Indonesia diperkirakan dapat mencapai Rp 23 triliun pada tahun 2025.

Potensi ini membuka peluang bagi produk jamu yang berorientasi ekspor agar bisa menjadi komoditi andalan di pasar global. 

WHO memprediksi permintaan tanaman obat dapat mencapai nilai USD 5 triliun pada tahun 2050.

Tentunya, potensi pengembangan yang besar tersebut perlu didukung dengan kemampuan penyediaan bahan baku yang memenuhi standar/persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu, serta kuantitas. 

Bagi produsen Fitofarmaka, konsistensi kandungan senyawa aktif dalam  bahan baku alam, merupakan aspek fundamental agar produk yang diproduksi memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, dan mutu.

“Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan menjaga stabilitas ketersediaan bahan baku obat bahan alam, baik dari sisi jumlah, kontinuitas (sustainability) , mutu, maupun harganya melalui berbagai upaya intervensi dari hulu ke hilir," katanya,  Kamis (4/8/2022) 

Dengan demikian, menurut dia, produk obat bahan alam dapat diproduksi dengan harga yang relatif murah dan bermutu secara kontinu. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved