Berita Dunia

Capai Level Terendah Sejak Februari 2022, Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok

Dalam pekan ini harga minyak global anjlok ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina.

THINSTOCK/KOMPAS.COM
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, NEW YORK -- Dalam pekan ini harga minyak global anjlok ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina.

Sentimen datang karena kemungkinan resesi ekonomi di akhir tahun ini yang dapat menghambat permintaan energi.

Kamis (4/8), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2022 ditutup turun US$ 2,66 atau 2,75 persen ke US$ 94,12 per barel.

Ini jadi penutupan terendah bagi Brent sejak 18 Februari.

Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2022 juga ditutup melemah US$ 2,34 atau 2,12 % menjadi US$ 88,54 per barel. Ini juga jadi penutupan terendah sejak 15 Februari 2022.

Penurunan harga minyak bisa menjadi bantuan bagi negara-negara konsumen besar termasuk Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, yang telah mendesak produsen untuk meningkatkan produksi guna mengimbangi pasokan yang ketat dan memerangi inflasi yang mengamuk.

Minyak telah melonjak ke lebih dari US$ 120 per barel di awal tahun. Rebound permintaan yang tiba-tiba dari hari-hari tergelap pandemi Covid-19, bertepatan dengan gangguan pasokan yang berasal dari sanksi terhadap produsen utama Rusia atas invasinya ke Ukraina.

Penjualan Kamis mengikuti lonjakan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS pekan lalu. Stok bensin, proksi untuk permintaan, juga menunjukkan peningkatan yang mengejutkan karena permintaan melambat di bawah beban harga bensin mendekati US$ 5 per galon, kata Energy Information Administration (EIA).

"Tampaknya pelemahan dari hari Rabu menyusul permintaan bensin tersirat AS yang lebih lemah dari perkiraan, bersama dengan terobosan level dukungan teknis pada hari Kamis, telah menyeret minyak lebih rendah," kata Giovanni Staunovo, Analis UBS.

Prospek permintaan tetap diliputi oleh meningkatnya kekhawatiran tentang kemerosotan ekonomi di AS dan Eropa, tekanan utang di negara-negara berkembang, dan kebijakan nol Covid-19 yang ketat di China, importir minyak terbesar dunia.

"Penembusan di bawah US$ 90 sekarang merupakan kemungkinan yang sangat nyata, yang cukup luar biasa mengingat betapa ketatnya pasar tetap dan betapa sedikit ruang yang ada untuk meringankan itu," kata Craig Erlam, Senior Market Analyst Oanda di London.

"Tapi pembicaraan resesi semakin keras dan jika itu menjadi kenyataan, kemungkinan akan mengatasi beberapa ketidakseimbangan."

Sebelumnya, Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga pada hari Kamis dan memperingatkan tentang risiko resesi.

Kesepakatan OPEC+ pada hari Rabu untuk menaikkan target produksinya sebesar 100.000 barel per hari (bph) pada bulan September, setara dengan 0,1

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved