Ada Ancaman Risiko Global, Ekonomi RI Semester II Masih Hadapi Tantangan Besar

satu tantangan yang akan dihadapi pada kuartal III dan kuartal IV adalah persoalan ketidakpastian global yang masih menggelayuti perekonomian dunia

Editor: Vito
istimewa
ilustrasi ekonomi 

Meski demikian, ia masih optimistis pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini bisa berada di level 5,2 persen yoy, menyusul capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2022 sebesar 5,44 persen yoy.

Airlangga pun memberikan syarat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen yoy pada tahun ini. “Salah satunya pengendalian pandemi masih harus terus dilaksanakan, dan juga perbaikan sistem kesehatan terus dilanjutkan,” tuturnya, akhir pekan lalu.

Selain pengendalian covid-19 yang masih menjadi isu dunia kini, menurut dia, respon kebijakan ekonomi termasuk fiskal dan moneter juga harus diperhatikan. Koordinasi antara kedua kebijakan itu harus terjalin dengan baik.

Pemerintah juga perlu untuk melakukan reformasi struktural dalam mendorong efisiensi penciptaan lapangan kerja baru. Dengan masyarakat yang terserap lapangan kerja, diharapkan mampu menambah daya beli masyarakat.

Terjaga

Adapun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, keadaan ekonomi Indonesia saat ini relatif terjaga atau dalam posisi yang aman.

Hal itu dibuktikan dengan masih terjaganya sisi permintaan-penawaran hingga stabilnya inflasi di Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

“Dalam artian demand-supply nya tetap terjaga. Inflasi memang tertahan karena kita juga memberi subsidi banyak. Tapi ekspor dan konsumsi yang supporting ini dengan sisi supply juga responsif, kita bisa mendapatkan growth 5,4 persen dengan inflasi relatif stabil,” katanya, di Jakarta, Minggu (7/8).

Meski demikian, Menkeu juga menyatakan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan ekonomi ke depan yang berasal dari global. Terdapat empat situasi yang perlu di antisipasi oleh Indonesia. “Tantangan ke depan seperti apa? Well, it is certainly coming from luar,” tandasnya.

Pertama, kebijakan negara maju. Sri Mulyani menyebut, jika Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunganya secara lebih agresif dapat menaikkan inflasi, yang berakibat pada pertumbuhan ekonomi hingga ke negara berkembang.

“Jadi itu yang harus kita hadapi. Spill over dari negara-negara advance dari ekonomi maupun policy yang mereka adopsi,” jelasnya.

Tantangan kedua yang lebih sulit diprediksi yaitu konflik geopolitik. Jika sebelumnya fokus konflik Ukraina-Rusia, kini terdapat pula konflik di Taiwan.

Selanjutnya, tantangan ketiga yaitu perubahan iklim. Sri mencontohkan, dampak nyata perubahan iklim itu seperti terjadinya kekeringan di banyak negara di Afrika seperti Madagaskar, suhu di India yang bisa mematikan yaitu mencapai 41 derajat celcius, adanya heat wave di Eropa, dan kebakaran hutan di Australia.

“So we never underestimate climate change, it is going to near with us,” tandasnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved