IHSG Bisa Meroket ke Level 7.400

Penguatan itu di antaranya didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih sanggup tumbuh 5,4 persen pada kuartal II/2022.

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Seorang karyawan melintasi papan bursa saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, baru-baru ini 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa meroket ke 7.400 pada 2022 ini.

Penguatan itu di antaranya didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih sanggup tumbuh 5,4 persen pada kuartal II/2022.

"Jadi menurut saya lebih cenderung dipengaruhi adanya faktor mikro, yakni kinerja emiten semakin progresif. Sementara kalau makro secara umum, indikator ekonomi kita itu kinerja fundamentalnya cenderung solid," ujarnya, saat dihubungi Tribunnews, Minggu (7/8).

Selanjutnya, dia menambahkan, kemungkinan resesi menimpa Indonesia hanya 5 persen, masih rendah dibandingkan dengan negara lain yaitu Sri Lanka 85 persen, Eropa dan Inggris 45 persen, dan Amerika Serikat (AS) 40 persen.

"Indonesia peluang resesi 5 persen. Sudah bagus dibanding Thailand dan Singapura juga yang 10 persen," kata Nafan.

Ia menyebut, periode November hingga Desember juga biasanya pasar saham mulai masuk tren penguatan atau bullish.

Penguatan akhir tahun itu biasanya didorong tren komitmen investasi dalam meningkatkan kinerja portofolio saham alias window dressing dari para emiten.

Di sisi lain, Bank Sentral AS atau The Fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga di Agustus, sehingga jadi sentimen positif ke pasar modal.

Namun, Nafan berujar, The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada September 2022, dengan peluang kenaikan paling realistis 50 basis poin.

"The Fed pada Agustus lebih menahan diri, sehingga ini diharapkan mengurangi kekhawatiran investor dari The Fed," tuturnya.

Nafan menyatakan, faktor penting lainnya yang dinanti investor adalah rilis data inflasi Negeri Paman Sam pekan depan.

Dengan mulai adanya tren penurunan harga komoditas, termasuk minyak dunia sudah di bawah 90 dolar AS per barel dapat meredakan kenaikan inflasi.

"Terakhir inflasi AS sebesar 9,1 persen, kalau turun, maka ini akan membuat kekhawatiran pelaku pasar menurun. Di sisi lain, Bank Indonesia masih menetapkan suku bunga di 3,5 persen, meski menghadapi pengetatan kebijakan di AS, Inggris, dan Korea Selatan," jelasnya. (Tribunnews/Yanuar R Yovanda)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved