Fokus

Fokus: Sinetron Vaksin

VAKSIN dosis satu, dua, maupun tiga belum rampung, kini sudah dimunculkan lagi dosis keempat atau istilah lainnya vaksin booster penguat (kedua). Mau

Penulis: deni setiawan | Editor: m nur huda
tribunjateng/grafis/bram
Deni Setiawan Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM - VAKSIN dosis satu, dua, maupun tiga belum rampung, kini sudah dimunculkan lagi dosis keempat atau istilah lainnya vaksin booster penguat (kedua). Mau sampai kapan ‘sinetron’ vaksinasi ini berakhir?

Demikian sedikit kutipan perbincangan beberapa warga di sela aktivitas pemasangan pernak-pernik menyambut jelang HUT ke 77 Republik Indonesia, di Kabupaten Kendal pada Minggu (7/8).

Mereka menyebut sinetron karena selalu ada kelanjutan, berjilid-jilid yang semakin lama justru membosankan dalam kaitannya kebijakan vaksinasi pencegahan Covid-19.

Dimana diklaim pemerintah, kasus Covid-19 hingga saat ini belum usai, masih cukup banyak orang yang tertular baik sebatas statussuspectmaupun positif.

Tak dapat dimungkiri memang bila masyarakat semakin jenuh dan tak peduli lagi dengan virus yang disebut Covid-19. Sama halnya tayangan sinetron tertentu, yang di awal menyenangkan dan membuat penasaran, namun kemudian membosankan.

“Sekarang disebut vaksin booster penguat, setelah itu apakah merdeka?” celetuk seorang warga.

Di sisi lain, vaksinasi booster kedua oleh Pemerintah Pusat telah resmi diterapkan mulai Jumat (29/7). Adapun sasaran utama di tahap awal adalah para tenaga kesehatan (nakes).

Sepintas, di tahap awal penerapan vaksinasi booster penguat tersebut bakal berhasil karena sasarannya adalah para nakes, yang mau tak mau harus dijalani mereka. Namun ketika yang menjadi sasaran adalah masyarakat umum, apakah bisa terlaksana mudah?

Menyimak kondisi saat vaksinasi dosis ketiga (booster), pemerintah harus memutar otak dalam penerapannya. Berbagai upaya ‘setengah memaksa’ melalui jemput bola pun dilakukan.

Semisal pemerintah harus sampai mengiming-imingi pemberian minyak goreng gratis, termasuk juga jika hendak mengambil bantuan sosial (bansos), mereka harus sudah disuntik vaksin.

Tak pelak, program vaksinasi ini menjadi tantangan tersendiri, terlebih ketika booster kedua ini mulai masuk ke ranah sasaran masyarakat umum. Tak berlebihan, ini bukanlah hal mudah secara teknis di lapangan.

Terbukti dari catatan di Kemenkes per 1 Agustus 2022, baru sekira 38.904.362 jiwa yang selesai di dosis ketiga atau baru tercapai 25 persen. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih jauh.

Sebut saja di Thailand sudah tercapai sekira 32 persen di periode waktu yang sama. Lalu Vietnam sudah 45 persen. Adapun yang cukup tinggi adalah Italia sekira 63 persen dan Jerman 58 persen.

Kurang tercapainya target dalam program vaksinasi di Indonesia ini, tentu tak sepenuhnya menyalahkan masyarakat sebagai subjek sasaran. Ada beberapa penyebab lain hingga mereka enggan bahkan tak lagi percaya lagi terkait Covid-19.

Tentu sebagian masih ingat, tak sedikit drama mirip sinetron dalam penerapan program tersebut. Seperti dicovidkan, hingga oknum pejabat yang memanfaatkan momentum untuk korupsi.

Berbagai pengalaman itulah yang mestinya dapat menjadi bahan evaluasi dan pelajaran berharga. Bagaimana meyakinkan masyarakat kaitan vaksinasi itu menjadi catatan penting.

Jangan sampai, vaksinasi booster ini kembali sekadar proyek mercusuar tanpa penyentuh intinya. Dimana tak sedikit pihak mengambil keuntungan ekonomis bagi pribadi maupun kelompok tertentu.

Jika ini kembali terulang, tak akan salah jika masyarakat memang sudah enggan disuntik vaksin dan menganggap layaknya sinetron, penuh drama, dan membuat mudah bosan penontonnya. Semoga masyarakat menyadari akan pentingnya vaksin booster demi ketangguhan imun tubuhnya. Tanpa terpengaruh adanya oknum yang korupsi dana penanganan pandemi Covid. (*TRIBUN JATENG CETAK)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved