OPINI

OPINI Wijanarto : Perempuan Dalam Balutan Penulisan Sejarah Revolusi 1945

PENULISAN sejarah (historiografi) Indonesia lebih didominasi historiografi patriarki. Tanpa terkecuali dalam periode revolusi 1945.

istimewa
Foto anggota komunitas membentangkan bendera Indonesia di Benteng Pendem Ambarawa 

Oleh Wijanarto

Sejarawan Pantura

PENULISAN sejarah (historiografi) Indonesia lebih didominasi historiografi patriarki. Tanpa terkecuali dalam periode revolusi 1945.

Sinyalemen minimnya peran perempuan dalam penulisan sejarah di Indonesia diperkuat oleh tulisan Reni Nuryati, Perempuan dalam Balutan Konflik (2011) yang mengutip Sofiana Tristiawati bahwa sejak reformasi 1998 hingga 2007 ada 1.700 buku sejarah, namun yang membahas perempuan kurang lebih 2 persen atau hanya 34 tulisan.
Artinya apa?

Panggung pentas penulisan sejarah di Indonesia dan secara khusus pada periode revolusi 1945 masih didominasi kaum Adam. Peranan laki-laki diperkuat dengan pemitosan revolusi 1945 itu sendiri yang identik pesona ksatria dan maskulinitas. Pemitosan itu antara lain dilekatkan dalam karya sastra.
Puisi Chairil Anwar, Prajurit Jaga Malam :

Waktu jalan / Aku tidak tahu apa nasib waktu? Pemuda-pemuda yang lincah, yang tua-tua keras / bermata tajam.
Mimpinya kemerdekaan / bintang-bintangnya kepastian / ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Demikian halnya dengan terminologi rakyat merujuk pada dunia laki-laki / pria.

Pun dengan sapaan akrab Bung juga berkonotasi sapaan untuk kaum laki-laki. Luputnya perempuan dalam kancah sejarah revolusi 1945 dipertegas artikel Anton Lucas dan Robert Bridson Cribb, “Peranan Wanita dalam Revolusi Indonesia : Sebuah Renungan Sejarah” yang terkumpul dalam buku Denyut Nadi Revolusi Indonesia (1997), yang menyatakan bahwa perempuan memiliki peranan yang amat kecil dan hanya bersifat penunjang.

Lalu apa menjadikan perempuan luput dalam penulisan sejarah revolusi 1945? Ada beberapa faktor yang bisa dikemukakan.

Pertama, minimnya peninggalan pengalaman kisah perempuan pada kancah revolusi 1945 di Indonesia.

Kedua, perspektif ideologi yang masih memosisikan peran perempuan sebatas pada peran domestifikasi yang mendukung institusi keluarga dan suami. Termasuk segi peran revolusi 1945.

Padahal patut untuk dieksplorasi beberapa nama perempuan yang lekat dan merasakan dinamika revolusi 1945. Dimana tahapan tersebut menentukan arah perubahan masyarakat Indonesia.

Orientasi revolusi 1945 yang identik dengan dunia patriarki tak bisa dilepaskan dari definisi dan dimitoskan ideologi patriarki melalui konsep pemuda.

Pemuda diidentikkan dengan dunia revolusioner tanpa adanya pembatasan usia serta pendidikan. Pun tak bisa dipungkiri pemitosan itu dilanggengkan dalam studi-studi kesejarahan Indonesia.

Sebut saja nama Ben Anderson melalui kajian klasiknya, Java in aTime Revolution 1944-1946, menguraikan dengan jelas konsep Revolusi Pemuda dan peran mereka.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved