Berita Kudus
Sajikan Cerita Khas ala Kampung
Sarip yang diperankan oleh Samsu bernasib tragis, dia harus berhadapan dengan hukum.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Sarip yang diperankan oleh Samsu bernasib tragis. Dia harus berhadapan dengan hukum dan terancam penjara.
Warga RT 2 RW 2 itu terbukti melakukan pelanggaran karena mengedarkan rokok ilegal.
Tak hanya Sarip, sejumlah warga kampung yang selama ini hidup bersahaja nyaris terlibat jual-beli rokok ilegal karena iming-iming laba besar dari hasil berjualan rokok ilegal tersebut.
Beruntung, nasib sejumlah warga tersebut berhasil diselamatkan oleh Pak RT (yang diperankan oleh Cipo NH) karena sebagai tokoh masyarakat yang sedikit banyak mengerti tentang undang-undang, berupaya agar warganya tidak terjerumus ke dalam lingkaran peredaran rokok ilegal tersebut dan berurusan dengan yang berwajib.
Mbok Kanah (Pipiek IsfiantI) misalnya, pemilik warung kampung, Siwuk (Tyas) anak mbok Kanah, maupun Bodrek (Dito Mora) akhirnya selamat dari jerat hukum setelah mendapat penjelasan dan bimbingan dari Ketua RT tentang bahayanya rokok ilegal.
Itulah sekelumit cerita yang tersaji dari Keluarga Teater Kudus (Keset) dalam pementasan teater berjudul "Kenthongan" yang dipentaskan pada Kamis (11/8/2022) pukul 19.00 di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK).
Cerita lakon tiga babak berbahasa Jawa ini sendiri diawali dari sebuah pos kamling yang mana para pemuda kampung sedang latihan musik thong-thek untuk mewakili desanya mengikuti lomba pos kamling.
Dasar anak muda, mereka bermain musik semau-maunya dan membuat tetangga mereka Mbok Kanah yang baru pulang berbelanja dari pasar untuk kebutuhan warungnya marah-marah. Kemarahan Mbok Kanah ini sebenarnya lebih dipicu karena harga-harga di pasar semuanya naik.
Pertikaian kecil antarmereka pun terjadi. Beruntung ada Siwuk yang melerai pertikaian kecil yang lucu dengan cara yang lucu juga.
Konflik-konflik receh khas antarwarga kampung terus terjadi. Seperti rebutan siapa yang harus membayar kopi, perdebatan tentang harga sembako di pasar, hingga konflik dan perdebatan kecil tentang politik.
"Di masyarakat kita memang sering dan selalu terjadi konflik-konflik kecil khas warga kampung. Dan konflik-konflik kecil tersebut justru menjadi sarana toleransi dan keakraban antarwarga atau bahkan menjadi guyonan yang renyah. Seperti misalnya Bodrek yang pemuda pengangguran berani meledek Pak RT karena terlambat mendapatkan informasi dari Pak Lurah,” kata sutradara pementasan Nurhadi atau akrab disapa Cipo.
Cerita Kenthongan ini memang dibangun dari konflik-konflik khas warga kampung yang dibalut dengan keluguan, kekonyolan, dan kelucuan khas warga kampung.
Tak heran jika sepanjang pertunjukan akan banyak adegan-edegan yang mengundang gelak tawa.
Termasuk warga bernama De Miskan (Kasmin) yang berprofesi sebagai tukang tambal ban yang selalu melibatkan diri dalam hampir semua kejadian dan obrolan meski dia tidak paham betul tentang hal tersebut.
Pentas teater ini, menurut Ketua Teater Keset, Zaki Zamani, merupakan kerja sama antara Keluarga Teater Kudus (Keset), Teater Obeng Fakultas Teknik UMK, Diskominfo Kudus, dan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kudus sehingga pentas teater berbentuk realis dan sampakan ini terselenggara.
"Teater sebagai sebuah seni pertunjukan selain sebagai tontonan juga membawa tuntunan," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pementasan-teater-keset2.jpg)