Berita Semarang

Hendi Ingin Program Jumat Berkah Bisa Diteruskan hingga Kecamatan dan Kelurahan dengan Zero APBD

Jumat Berkah menjadi satu diantara sejumlah program yang digagas Pemkot Semarang.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Warga kurang mampu di sekitar Balai Kota Semarang menerima paket sembako melalui program Jumat Berkah, Jumat (12/8/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Program Jumat Berkah menjadi satu diantara sejumlah program yang digagas Pemerintah Kota Semarang dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Program Jumat Berkah semula dilakukan dengan membagikan makanan kepada warga yang kurang mampu menggunakan dana APBD melalui Dinas Sosial (Dinsos).  Kini, program ini mulai berkembang dengan membagikan paket sembako tanpa kucuran APBD.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, program Jumat Berkah ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Kota Semarang kepada warga kurang mampu.

Dia ingin Program Jumat Berkah ini bisa diteruskan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan dengan menekankan partisipasi masyarakat alias zero APBD.

"Saya sudah sampaikan ke camat lurah untuk bisa meneruskan program Jumat Berkah dengan kekuatan gotong royong dan solidaritas masyarakat setempat. Lama-lama APBD saya minta zero supaya partisipasi masyarakat lebih meningkat," ujar Hendi, sapaannya, saat menghadiri program Jumat Berkah di Masjid Al Khusuf Balai Kota Semarang, Jumat (12/8/2022).

Dengan program ini, dia berharap dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mengentaskan kemiskikan di Kota Semarang.

Menurutnya, masih ada slot anggaran pembelian 7.000 nasi bungkus menggunakan dana APBD untuk program Jumat Berkah. Program ini pun membantu masyarakat yang membutuhkan makan. Di sisi lain juga membantu para prlaku UMKM di bidang kuliner.

Dia meminta Dinsos mengurangi porsi APBD untuk program Jumat Berkah. Dia ingin program Jumat Berkah ini menekankan partisipasi masyarakat. Dengan demikian partisipasi masyarakat akan lebih meningkat untuk pengentasan kemiskinan.
"Jadi, konsepnya gotong royong bergerak bersama.Yang dibagikan di Masjid Al Khusuf ini bagian pola untuk menarik kawan-kawan yang punya rezeki lebih, dikoordinir dinsos. Dibelikan sayur mayur, beras, indomie, telor, dibagikan ke warga sekitar," terang Hendi. 

Kepala Dinsos Kota Semarang, Heroe Soekendar mengatakan, Dinsos memiliki konsep rehabilitasi sosial berbasis masyarakat. Artinya, permasalahan sosial sebisa mungkin diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri, termasuk persoalan kemiskinan.

"Kami sengkuyung bareng memberikan sembako bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami memberi contoh agar ini bisa dilakukan kecamatan, kelurahan, dan tempat ibadah supaya bergerak bersama," kata Heroe. 

Warga kurang mampu di sekitar Balai Kota Semarang menerima paket sembako melalui program Jumat Berkah, Jumat (12/8/2022).
Warga kurang mampu di sekitar Balai Kota Semarang menerima paket sembako melalui program Jumat Berkah, Jumat (12/8/2022). (TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN)

Di samping pengentasan kemiskinan, lanjut dia, program ini juga untuk mengatasi stunting. Stunting tidak hanya persoalan anak saja melainkan juga ibunya. Maka, pihaknya berupaya mencukupi kebutuhan gizi ibu dari kalangan kurang mampu agar tidak melahirkan balita stunting.

"Per jumat rata-rata kami bagi 150-200 paket sembako. Kali ini, kami bagikan ke warga kurang mampu di sekitar balai kota," bebernya.

Heroe menguraikan, satu paket sembako berkisar Rp 50 ribu. Anggaran paket sembako ini tidak dari APBD melainkan gotongroyong para pegawai pemkot.

"APBD tidak ada, zero. Kami berupaya mengatasi kemiskinan tanpa membebani APBD," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved