Berita Jateng

DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat, Pinsar Indonesia Rangkul Bapanas Atasi Masalah Perunggasan

DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, kembali menghelat “Rembug Nasional”. Acara yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah

Istimewa
DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, kembali menghelat “Rembug Nasional”. Acara yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (25/8) tersebut, bertujuan untuk mengurai persoalan perunggasan nasional. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG --  DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, kembali menghelat “Rembug Nasional”. Acara yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis (25/8) tersebut, bertujuan untuk mengurai persoalan perunggasan nasional.

Acara itu dihadiri Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan, “Kehadiran mereka, agar pemerintah hadir dalam mengatasi masalah perunggasan yang dikelola UMKM. Selama ini, masalah perunggasan dari hulu sampai hilir belum terselesaikan, dan itu membuat peternak rakyat banyak yang gulung tikar,” ungkap Ketua Umum DPP Pinsar, Singgih Januratmoko.

Menurut Singgih, dua tahun terakhir para peternak rakyat mengalami kesulitan akibat pandemi Covid-19, yang membuat daya beli masyarakat turun. Menumpuknya persoalan perunggasan juga menggerus jumlah peternak mandiri UMKM.

“Yang dulunya 80 persen peternak mandiri dan 20 persen peternak integrasi, kini peternak mandiri tinggal 20 persen. Hanya peternak ayam layer yang stabil di angka 90 persen,” ungkap Singgih.

Dengan harga telur Rp 27.000-Rp30.000 per kilogram di pasaran saat ini, itu belum cukup untuk menutupi kerugian peternak selama 1,5 tahun, “Kenaikan harga telur tersebut, memang sewajarnya agar peternak tidak rugi. Demikian pula dengan harga ayam potong, memang seharusnya Rp23.000-Rp25.000 per kilogram. Di bawah harga itu, peternak merugi.

“Kami berharap pemerintah itu hadir di tengah-tengah peternak dan petani. Parameternya jelas, kesejahteraan peternak dan petani masih rendah. Kami berharap kehadiran Kementerian Pertanian, Perdagangan, Bapanas, dan Satgas Pangan dapat menaikkan kesejahteraan petani dan peternak,” ungkap Singgih.

Menanggapi pernyataan Singgih Januratmoko, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengatakan, pihaknya ditugaskan melalui Perpres No. 66 Tahun 2021, untuk menjamin ketersediaan dan stabilisasi pangan, mengurangi kerawanan pangan dan gizi, serta meningkatkan penganekaragaman komsumsi dan keamanan pangan, “Nantinya Bulog menjadi operatornya Bapanas, sehingga bisa menyerap telur dan ayam, seperti yang dilakukan di Jakarta,” ujarnya.

Bapanas, menurutnya akan menjaga keterserapan pangan, dengan demikian para peternak tidak cemas dengan stok telur dan daging ayam mereka, “Kami juga diberi kuasa oleh kementerian lain, dalam hal stabilisasi harga dan distribusi pangan, serta ekspor dan impor dari Kementerian perdagangan. Bahkan diberi wewenang penetapan cadangan dan penetapan harga yang sebelumnya di Kementerian Pertanian,” kata Arief.

Bapanas, menurut Arief, menetapkan Harga Acuan Pembelian dan Penjualan (HAP) jagung kering pipil berkadar air 15 persen, Rp4.200 per kg di tingkat petani dan Rp5.000 per kg di tingkat peternak. Sementara HAP telur ayam seharga Rp22.000-Rp24.000 per kg di tingkat peternak, “Sedangkan di tingkat konsumen Rp27.000 per kg. HAP live bird atau ayam hidup Rp21.000-Rp23.000 per kg di tingkat peternak, dan Rp36.750 per kg di tingkat konsumen,” paparnya.

Bapanas memerlukan kerja sama dengan komunitas seperti Pinsar untuk membantu tugas-tugas terkait ketahanan dan swasembada pangan. Untuk membantu tugas Bapanas, Satgas Pangan Polri bakal menindak penyelewengan-penyelewengan yang mengakibatkan kerawanan pangan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved