Berita Ungaran

Sopir Angkutan Resmi Trayek Karangjati-Pringapus Resah dengan Menjamurnya Angkutan Pelat Hitam

Para sopir angkutan umum penumpang resmi trayek Karangjati-Pringapus, mengeluh.

Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: sujarwo
Istimewa
Para sopir yang tergabung dalam paguyuban pengemudi angkutan umum di Pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, melakukan audiensi dengan Dishub Kabupaten Semarang dan Komisi C DPRD Kabupaten Semarang di Kantor DPRD Kabupaten Semarang, Selasa (6/9/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, KABUPATEN SEMARANG - Para sopir angkutan umum penumpang berpelat kuning atau resmi dengan trayek Karangjati-Pringapus, mengeluhkan keberadaan angkutan penumpang pelat hitam dengan rute yang sama.

Keberadaan angkutan pelat hitam itu menurut mereka berisiko menimbulkan kerawanan gesekan antara kedua pihak.

Menurut penuturan salah seorang sopir angkutan pelat kuning rute tersebut, Imam Suhada (53), selama ini angkutan pelat hitam seperti dibiarkan beroperasi sehingga jumlahnya terus bertambah banyak atau menjamur.

“Sudah jelas kami ini resmi, bayar pajak, uji kir namun malah diserobot sama pelat hitam.
Apalagi banyak pelat luar kota yang beroperasi, hal itu berarti tidak berkontribusi juga bagi Kabupaten Semarang,” kata Imam saat beraudiensi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Semarang dan anggota Komisi C DPRD Kabupaten Semarang di Kantor DPRD Kabupaten Semarang, Selasa (6/9/2022) hari ini.

Para sopir yang tergabung dalam paguyuban pengemudi angkutan umum di Pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, melakukan audiensi dengan Dishub Kabupaten Semarang dan Komisi C DPRD Kabupaten Semarang di Kantor DPRD Kabupaten Semarang, Selasa (6/9/2022).
Para sopir yang tergabung dalam paguyuban pengemudi angkutan umum di Pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, melakukan audiensi dengan Dishub Kabupaten Semarang dan Komisi C DPRD Kabupaten Semarang di Kantor DPRD Kabupaten Semarang, Selasa (6/9/2022). (Istimewa)

Menurutnya, keberadaan angkutan berpelat hitam itu juga membuat omzet Imam bersama teman sesama pengemudi angkutan mengalami penurunan.

“Terus menurun bahkan hingga 30 persen. Permintaan kami tidak muluk-muluk, hanya minta keadilan,” imbuhnya.

Imam sendiri menginginkan adanya ketegasan dari pihak berwenang, lantaran selama ini menurutnya angkutan hitam yang beroperasi secara ilegal tersebut hanya diberikan sanksi tilang dan bayar denda.

“Sedangkan besoknya narik lagi. Kalau begitu terus, tidak akan bisa tertib," tegas Imam.

Sementara itu Sekretaris Dishub Kabupaten Semarang Djoko Noerjanto menanggapi persoalan tersebut.

Ia menuturkan bahwa pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Satlantas Polres Semarang terkait penindakan dan penertiban angkutan ilegal.

Selain itu, para petugas dinas perhubungan juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pengemudi angkutan pelat hitam agar armadanya bersedia dikonversi ke pelat kuning.

"Kami sudah dua kali mengundang (sopir angkutan pelat hitam). Namun mereka memang masih menolak dikuningisasi (konversi ke pelat kuning). Kami juga tidak bisa menindak karena ranahnya Satlantas, tapi koordinasi terus kami lakukan," ujar Djoko.

Meskipun demikian, lanjut Djoko, pihaknya sampai saat ini terus melakukan upaya kuningisasi terhadap angkutan pelat hitam.

“Sebab dengan beralih menjadi angkutan umum yang resmi, maka keselamatan kendaraan, penumpang dan orang lain bisa dijamin oleh undang-undang. Kuota anggotanya berjumlah 150, tapi sekarang baru ada 73 (legal). Maka kami berkomitmen untuk kuningisasi terus.
Sebab jika sudah legal maka sifatnya resmi, bukan terus bisa hilang seenaknya jika dalam satu trip penumpangnya sedikit," lanjutnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved