Berita Kriminal

Pesan AM Santri Ponpes Gontor Sebelum Tewas Dianiaya Senior ke Soimah, Setelah Meninggal Baru Ngerti

Soimah ibunda dari AM (17) santri Ponpes Gontor yang tewas karena diduga dianaya seniornya mengenang kalimat yang sering diucapkan mendiang putranya.

Editor: rival al manaf
Tangkapan Layar akun Instagram @hotmanparisofficial
Seorang wanita bernama Soimah mengaku pada Hotman Paris bahwa anaknya yang merupakan santri di pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, diduga meninggal karena kekerasan 

TRIBUNJATENG.COM, PALEMBANG - Soimah ibunda dari AM (17) santri Ponpes Gontor yang tewas karena diduga dianaya seniornya mengenang kalimat yang sering diucapkan mendiang putranya.

Ternyata apa yang sering diucapkan anaknya itu ada hubungannya dengan peristiwa yang kini menimpanya.

Menurut Soimah, AM sempat memiliki niat untuk mengubah sistem pendidikan di dalam pondok pesantren.

Baca juga: Polisi Ungkap Hasil Autopsi Jenazah Santri Gontor: Ada Luka Memar di Dada Akibat Benda Tumpul

Baca juga: Kapolres Ponorogo Ungkap Korban Penganiayaan di Ponpes Gontor Ternyata Tak Hanya Satu Santri

Baca juga: Santri Meninggal Diduga Dianiaya, Ponpes Gontor Awalnya Ngaku Almarhum Kelelahan Seusai Kemah

Niatan AM itu sering dia sampaikan kepada ibundanya Soimah ketika sedang pulang ke Palembang.

Soimah mengenang kembali, kata-kata itu sering dilontarkan AM saat mereka sedang duduk bersama dan mengobrol.

“Sebelum anak saya meninggal almarhum selalu berceloteh kepada saya, ingin memperbaiki sistem ponpes," kata Soimah, Sabtu (10/9/2022).

Namun saat itu, Soimah tak terlalu menanggapi serius maksud perkataan putra sulungnya tersebut.

"Rupanya dengan meninggalnya almarhum baru saya bisa mengerti maksud celotehan tersebut adalah untuk memperbaiki sistem agar tidak terjadi tindakan kekerasan di lembaga pendidikan mana pun dan pengalihan pengasuhan, pengawasan kepada senioritas,” imbuh dia.

Menurut Soimah, ia bersama suaminya akan terus melanjutkan proses hukum terhadap pelaku yang menyebabkan AM tewas.

Hal itu harus ditempuh agar tak ada lagi korban selanjutnya dalam kalangan di pondok pesantren.

“Saya sebagai seorang ibu dari AM tetap terus akan melanjutkan perjuangan anak saya,” ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Nikolas Bagas Yudhi Kurnia sebelumnya menjelaskan, ada dua orang senior korban yang diperiksa.

Kedua orang itu pun menjadi terduga pelaku yang menyebabkan AM tewas.

Menurut Nikolas, motif penganiayaan AM hingga tewas diduga dilatarbelakangi kesalahpahaman saat menggelar acara Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum).

Saat itu, AM yang menjadi ketua kekurangan alat hingga menyebabkan keduanya marah.

Baca juga: Nathalie Holscher Jawab Tegas Hubungannya dengan Frans Faisal Hanya Sebatas Konten

Baca juga: Detik-detik Pria Kudus Jadi Tahanan Bea Cukai Kabur Bawa Mobil Petugas dengan Tangan Terborgol

Baca juga: Polisi Selidiki CCTV yang Mengarah ke TKP Penemuan Jenazah Diduga Iwan Budi PNS Bapenda

“Kami mengamankan beberapa barang bukti termasuk tongkat dari lokasi kejadian serta becak. Becak ini diduga digunakan untuk membawa korban ke rumah sakit,” kata Nikolas.

Dari kasus tersebut, penyidik Polres Ponorogo telah melakukan pemeriksaan pada sejumlah saksi.

Keterangan para saksi itu menguatkan bahwa dua orang tersebut menjadi terduga pelaku. “Keduanya (terduga pelaku) adalah senior korban di sekolah,” jelasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ucapan Santri Gontor Sebelum Tewas pada Sang Ibu, Sebut Ingin Perbaiki Sistem di Ponpes"

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved