Fokus

Fokus: Suksesi

Pergantian pimpinan tertinggi di Kerjaaan Inggris berjalan mulus, dan itu memang wajar. Putra sulung Ratu Elizabeth II, Charles, menjadi raja baru Ing

Penulis: sujarwo | Editor: m nur huda
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Sujarwo

TRIBUNJATENG.COM - Pergantian pimpinan tertinggi di Kerjaaan Inggris berjalan mulus, dan itu memang wajar. Putra sulung Ratu Elizabeth II, Charles, menjadi raja baru Inggris setelah kematian ibunya pada Kamis 8 September 2022. Ia kini dikenal sebagai Raja Charles III.

Putra sulung Charles yaitu Pangeran William akan menjadi ahli waris takhta Inggris. Dia kini memiliki gelar Duke of Cornwall, yang dipegang oleh pewaris takhta pertama.

Ratu Elizabeth II sendiri adalah raja paling lama memerintah dalam sejarah Inggris. Ia dimahkotai pada 1953 di usia 27 tahun. Terlama kedua dimiliki Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (Rama IX), yang memerintah selama lebih dari 70 tahun. Yang terlama adalah Louis XIV dari Prancis, dengan pemerintahan 72 tahun.

Mulusnya pergantian kekuasaan dalam Kerajaan Inggris karena ada dasar garis suksesi yang ditetapkan oleh hukum Inggris setelah dikodifikasikan dalam Bill of Rights pada 1689 dan Act of Settlement pada tahun 1701. Mengutip berbagai sumber, garis itu dibuat setelah James II melarikan diri dari negara itu pada 1688, meninggalkan takhta kosong tanpa penguasa.

Dalam sejarah suksesi tidak semuanya berjalan mulus. Berbagai fenomena bergantian kekuasaan terjadi, yang disebabkan oleh perang, kudeta, dan revolusi berdarah. Bahkan, tidak jarang pihak yang mendapatkan kekuasaan mempertahankannya secara brutal dan merepresi kebebasan masyarakat.

"Banyak sejarah monarki adalah tentang perang, siapa yang benar-benar terkuat," kata sosiolog Laura Clancy dari Lancaster University di Inggris kepada Live Science.

Kerajaan Inggris yang telah ada selama lebih dari 1.200 tahun, mencakup 37 generasi, juga pernah seperti kata Laura Clancy. Pertempuran yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi untuk memperebutkan mahkota.

Simak kisah Lady Jane Grey yang naik takhta dalam situasi penuh intrik di dalam keluarga Kerajaan Inggris. Ia naik takhta secara "terpaksa" dan menjadi "korban politik".

Lady Jane Grey memerintah Inggris hanya selama sembilan hari pada bulan Juli 1553. Ia dianggap sebagai penguasa yang memerintah terpendek, hingga dijuluki Ratu Sembilan Hari.

Perempuan kelahiran tahun 1536 ini sebenarnya memiliki reputasi, sebagai salah satu perempuan muda paling terpelajar. Ia mengenyam pendidikan humanisme, fasih berbahsa Yunani, Latin, Ibrani, Prancis, dan Italia. Tapi, Lady Jane akhirnya meninggal mengenaskan, dieksekusi bersama sang suami pada 1554.

Tak jauh-jauh, sejarah suksesi kerajaan di negeri ini pun tak jauh beda dari apa yang dikatakan sosiolog Laura Clancy. Di Kerajaan Singosari (1222-1292), misalnya, terjadi perebutan kekuasaan hingga tujuh keturunan. Saling membalas dendam berebut kekuasaan hingga terjadinya beberapa kali peralihan kekuasaan.

Pasca Singosari bak sejarah terulang. Kudeta (pemberontakan) besar terjadi pada kerajaan-kerajaan besar. Majapahit runtuh sekitar 1478 Masehi. Beberapa literasi menjelaskan karena perebutan kekuasaan, hingga berakibat terjadinya perang paregreg (perang saudara) sepeninggal Mahapatih Gajah Mada.

Ada catatan lagi, Kerajaan Sriwijaya yang mulai surut karena pengganti yang kurang mumpuni. Paling tidak setelah Sri Marawijayatunggawarman. Sedangkan Kerajaan Mataram lemah lebih karena dipecah belah oleh Belanda.

Berkaca pada semua itu, tak lama lagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bakal mengalami pergantian kepemimpinan nasional bertajuk Pilpres 2024. Moga saja juga berjalan mulus, apalagi negeri ini memiliki undang-undang yang jelas, dan telah menjadi nagara demokrasi terbesar ketiga di dunia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved