Berita Nasional

Jokowi Pertimbangkan Beli Minyak Rusia, Asal Beri Harga Lebih Baik

Jokowi sedang mempertimbangkan untuk membeli minyak dari Rusia, di saat harga minyak mentah tengah menghadapi lonjakan.

Editor: m nur huda
SPUTNIK/MIKHAIL KLIMENTYEV via AFP
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri). Putin bertemu Jokowi di Kremlin, Moskwa, Rusia, Kamis (30/6/2022). Meja kecil jadi sorotan, dibandingkan saat ketemu Presiden Prancis. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang mempertimbangkan untuk membeli minyak dari Rusia, di saat harga minyak mentah tengah menghadapi lonjakan.

Hal itu mengikuti langkah China dan India yang telah lebih dulu memborong puluhan ton minyak Rusia dengan tujuan untuk mengimbangi tekanan fiskal akibat kenaikan biaya energi.

"Semua opsi selalu kami pantau. Jika ada negara (dan) mereka memberikan harga yang lebih baik, tentu saja," katanya, dalam wawancara dengan Financial Times, ketika ditanya apakah Indonesia akan membeli minyak dari Rusia.

Melonjaknya harga minyak mentah dunia imbas memanasnya konflik Rusia dan Ukraina, telah memaksa pemerintah pusat untuk mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia hingga melesat ke level tertingginya pada bulan ini.

Walaupun keputusan itu memicu gelombang protes, Presiden Jokowi mengatakan, kenaikan harga BBM itu merupakan upaya terakhir yang dapat dilakukan guna menyelamatkan keuangan negara dari pembengkakan anggaran subsidi, di tengah melonjaknya harga minyak dunia dan depresiasi atau penurunan nilai rupiah.

Pada Agustus lalu, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno, dikutip Reuters, mengatakan bahwa Indonesia telah ditawari minyak mentah Rusia dengan diskon 30 persen.

Sayangnya, hingga kini Presiden belum memutuskan apakah Indonesia akan resmi mengikuti langkah para tetangganya untuk mengimpor minyak dari Rusia, atau tetap mengimpor minyak dari pasar global yang harganya kian melejit.

Padalah, keputusan Indonesia untuk membeli minyak dari Rusia dapat membantu menyetabilkan inflasi akibat kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok dalam negeri yang saat ini telah melonjak di kisaran 4,69 persen pada Agustus, melesat lebih tinggi di atas kisaran target bank sentral yang hanya mematok 2-4 persen.

Namun apabila nantinya Indonesia resmi mengimpor pasokan minyak dari Rusia, tentunya keputusan itu dapat mendatangkan sanksi dari Barat. 

Hal itu mengingat Kelompok tujuh negara terkaya di dunia alias G7 yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, Italia, dan Inggris telah menerapkan sanksi pembatasan harga minyak Rusia dengan tujuan untuk menghentikan impor minyak mentah Rusia yang bisa digunakan Moskow untuk membiayai invasinya di Ukraina. (Tribunnews/Namira Yunia Lestanti/TRIBUN JATENG CETAK)

 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved