Opini

Opini Wijanarto: Olahraga dan Politik Kebangunan Kebangsaan

OLAHRAGA merupakan alat perjuangan guna mewujudkan nation building yang nyaris terlupakan. Momentum peringatan Hari Olah Raga Nasional yang setiap tan

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Wijanarto (Sejarawan Pantura Tinggal di Brebes) 

Opini Ditulis Oleh Wijanarto (Sejarawan Pantura Tinggal di Brebes)

TRIBUNJATENG.COM - OLAHRAGA merupakan alat perjuangan guna mewujudkan nation building yang nyaris terlupakan. Momentum peringatan Hari Olah Raga Nasional yang setiap tanggal 9 September semestinya menjadi refleksi untuk menguatkan pengikat rasa kebangsaan itu.

Narasi sejarah merawikan bahwa pasca dekolonisasi, para elite memilih jalur politik serta kebudayaan sebagai sarana membangun sekaligus mempertahankan identitas kebangsaan atas sebuah negara yang baru merdeka. Olah raga diyakini sebagai wahana yang mempersatukan sekaligus mengikat rasa kebangsaan.

Pertanyaannya bagaimana formulasi itu tersusun bagi sebuah bangsa yang dimerdekakan 17 Agustus 1945.
Berkiblat dari teks sejarah, perhelatan Pekan Olah Raga (PON) pertama 9-12 September 1948 di Surakarta digelar, salah satunya untuk mengobati kekecewaan saat kegagalan keberangkatan atlet Indonesia mengikuti gelaran Olimpiade di London tahun 1948. Dampak kegagalan tersebut mengakibatkan organisasi induk olah raga, Persatoean Olah Raga Indonesia (PORI) menggelar konferensi darurat tanggal 1Mei 1948.

Pelaksanaan gelar PON pertama di Surakarta tersebut, situasi politik menyebutkan bahwa Indonesia tengah berjuang untuk mempertahankan legitimasi politiknya setelah menandatangani perundingan Renville 18 Januari 1948. Renville berakibat pada kedaulatan wilayah Indonesia berkurang. Di tengah situasi politik sekaligus keterbatasan, perhelatan ajang olah raga PON kali pertama menjelmakan alat kebangunan politik kebangsaan yang menyatukan keberagaman atas nama suku bangsa/etnis, wilayah, bahasa dan keyakinan. PON merupakan transformasi politik efektif.

Sebetulnya pada masa kolonial pernah diselenggarakan ajang olah raga semacam sportweek yang digagas oleh Soetardjo Kartohadikusumo tahun 1938. Tokoh Soetardjo dikenal sebagai sosok yang menyuarakan petisi yang disebut Petisi Soetardjo tahun 1936 yang ditujukan Pemerintah Kerajaan Belanda. Petisi tersebut secara garis besar penyuaraan atas keterwakilan wakil-wakil masyarakat Hindia Belanda dan pemberian pemerintahan otonom.

Perkembangan Olahraga

Selama ini sejarah pergerakan kebangsaan dimonopoli dinamika pergerakan partai-partai pergerakan nasional dengan menafikan kontribusi panggung olah raga. Ini disadari karena ruang politik merupakan gelanggang primadona bagi elite pergerakan untuk melakukan resistensi terhadap pemerintah kolonial.
Padahal gelanggang olah raga saling berkontribusi untuk itu. Salah satunya melalui sepak bola sebagai cabang olah raga popular di kalangan rakyat Indonesia. Bahkan beberapa tokoh-tokoh pergerakan mencintai olah raga ini. Sebut saja Mohammad Husni Thamrin, Tan Malaka, Sjahrir, Moh. Hatta atau Sultan Hamengkubuwono IX.

Buku R.N Bayu Aji, Politik Nasionalisme Sepakbola Indonesia Era Soekarno 1950-1965 (2022), mencatat bahwa perkumpulan sepakbola pertama di Hindia Belanda berdiri tanggal 28 September 1893 dengan nama Bataviasche Cricket Football Club Rod Wit. Memasuki awal abad XX telah berdiri klub-klub sepakbola di kota-kota besar seperti West Java Voetbal Bond (Batavia), Soerabajasche Voetbal Bond (Surabaya), Bandoeng Voetbal Bond (Bandung) dan Semarang Voetbal Bond (Semarang).

Perkembangan selanjutnya ialah terbentuknya asosiasi persatuan sepak bola yang mewadahi klub-klub sepak bola yang dalam kenyataannya didasarkan pada etnik/ras. Diantaranya Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang mewadahi klub-klub sepakbola Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) yang beranggotakan klub-klub sepakbola peranakan Tionghoa. Sementara warga pribumi mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI).

M.H Thamrin patut disebut sebagai tokoh yang meniscayai bahwa olah raga khususnya sepakbola sebagai alat perjuangan dan penumbuh rasa kebangsaan. Alasan Thamrin sangat rasional. Karena semasa kolonial, gelanggang olah raga suasana politik kolonial berlaku pula. Rasialisme melawan superioritas Barat (Eropa) sepadan melawan bagaimana klub Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) dengan tegas melarang anggotanya melakukan pertandingan atau berkumpul dengan inlander (RN Bayu Aji, 2022 : 37).

Politik ras menguat dalam ruang olah raga yang seharusnya menjunjung tinggi fair play dan sportivitas. Artikel Hendaru Tri Hanggoro, Perjuangan M.H Thamrin Lewat Sepakbola (2019), menegaskan bagaimana kala itu politik rasisme berkelindan diantara klub sepakbola pribumi dan sepakbola Belanda. Melalui alat perjuangan Voetball Bond Boemipoetra (VBB), Thamrin menggelorakan sepakbola sebagai alat perjuangan kebangsaan.

Soekarno tak bisa dipungkiri merupakan actor politik dahsyat yang memilih olah raga sebagai propaganda politik melawan hegemoni Barat khususnya Eropa Barat. Bahkan dengan gegap gempita Soekarno menyatakan olah raga didasarkan pada landasan revolusi, Manipol dan Usdek sebagai pilar perjuangan politik. Ia meyakini olah raga dan sepakbola khususnya menjadi basis pembentukan dan penerapan nasionalisme serta para olahragawan merepresentasikan wakil-wakil bangsa dan negara.

Ganefo

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved