Fokus

FOKUS: Masih Minat Mondok?

MARAKNYA kasus kekerasan seperti perkelahian maupun pengeroyokan, bahkan ada yang berujung kematian di lingkungan pondok pesantren (ponpes), mengingat

Penulis: deni setiawan | Editor: m nur huda
tribunjateng/grafis/bram
Deni Setiawan Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis Oleh Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM - MARAKNYA kasus kekerasan seperti perkelahian maupun pengeroyokan, bahkan ada yang berujung kematian di lingkungan pondok pesantren (ponpes), mengingatkan saya pada 9 tahun silam.

Kala itu, keponakan terpaksa berurusan hukum karena dilaporkan telah melakukan pemukulan. Dia bersama keempat rekannya sesama santri memukul adik angkatannya.

Merasa tak terima, orangtua santri 'korban' itu melapor kepada pihak kepolisian. Beruntung, itu berakhir damai, meski dengan syarat memberikan ganti rugi tiap anak belasan juta Rupiah.

Bagi pribadi saya dan beberapa tetangga alumni ponpes, senioritas dan perkelahian di ponpes bukanlah hal mengejutkan. Nyaris di sebagian besar lingkungan pendidikan terjadi hal seperti itu, baik terbuka maupun tertutup.

Tanpa pula bermaksud membenarkan kekerasan di sana, tentunya ponpes masih menjadi satu lembaga pendidikan yang baik, utamanya berkaitan agama. Hal itu sudah teruji zaman.

Bahkan sebelum Indonesia merdeka, pesantren termasuk sistem pendidikan di dalamnya, sudah ada. Termasuk juga berandil besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pembeda dengan belasan tahun lalu, kasus-kasus tersebut kini begitu mudahnya mencuat ke publik, beriringan pula perkembangan teknologi. Lebih parahnya ‘kenakalan’ ini makin tak lumrah karena ada yang berujung pada kematian.

Contoh sederhana kala itu di lingkungan sekolah. Seorang adik kelas bakal ‘otomatis takut’ kepada kakak kelasnya, tanpa diminta apalagi dipaksa. Termasuk siswa kepada gurunya.

Namun di era sekarang? Ada kesan semua harus dipaksa, memaksakan kehendak untuk dihormati. Jika tidak, kekerasan menjadi jalur untuk merealisasikannya. Begitu sebaliknya, mereka mengabaikan ‘adab’ hormat menghormati.

Mungkin inilah yang terjadi saat ini, baik sadar maupun tak sadar dijumpai di lingkungan pendidikan, baik formal maupun nonformal, entah itu berstatus negeri maupun swasta.

Kembali ke lingkungan pondok, kurangnya pola asuh dan terlalu asyik pada pola didik menjadi satu pemicu maraknya tindak kekerasan. Ini sependapat dengan yang disampaikan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.

Mereka yang mengenyam pendidikan di ponpes seyogyanya tak sekadar dididik, tetapi juga diasuh karena mereka hidup tanpa didampingi orangtua. Itu sebabnya ada istilah pengasuh ponpes. Pengasuh berperan sebagai orangtua, ustad ustadzah sebagai kakak dari para santri.

Atas berbagai catatan kasus dua bulan terakhir ini, bagi kalangan orangtua atau wali santri tak pelak menimbulkan rasa cemas. Mereka khawatir anaknya bisa menjadi korban atau bahkan pelaku kekerasan yang berujung pada urusan hukum.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved